Jumat, 30 September 2016

Cerita Sex: Anak Tiri Yang Ternoda

Forum dewasa yg berisikan cerita sex terbaru, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa “Cerita Sex: Anak Tiri Yang Ternoda” dan foto sex bugil tante bispak abg hot terbaru 2016 – Yunita telah mulai bersiap-siap untuk kembali Yogyakarta setelah seminggu berada di desa kelahirannya. Telah bulat tekadnya bahwa kedatangannya ke desa kelahirannya di pulau bali kali ini adalah yg terakhir kali, bukan karena Yunita telah menjadi angkuh dan lebih senang di kota besar, melainkan ada sebab lainnya. Telah terpenuhi tugasnya sebagai putri yg berbakti yaitu menghadiri dan mendampingi ibu kandungnya disaat-saat terakhir sakit dan sampai menutup mata serta dimakamkan.


Yunita yg berwajah cantik itu adalah seorang jururawat dgn kedudukan cukup mantap dan baik di sebuah rumah sakit terkenal di ibukota. Ia telah menikmati pendidikan sebagai jururawat bukan saja di Yogyakarta, namun telah dilanjutkannya di Amsterdam, Belanda dan memperoleh ijazah perawat internasional.

Cerita sex terbaru, Oleh karena itulah setelah kembali dan memperoleh pekerjaan di Yogyakarta, hanya dalam waktu singkat Yunita – dgn nama lengkap sebenarnya Putri Yunita, telah menduduki jabatan kepala dari seluruh team perawat, termasuk bagian operasi dan jg ICU/CCU – meskipun usianya baru 22 tahun dan belum berkeluarga karena sibuk dgn tugasnya sehari-hari di tempat kerja.

Telah banyak dokter-dokter muda yg mengincarnya namun belum ada satupun yg dapat merebut hati si perawat cantik ini. Ibu kandungnya yg tetap tinggal di desa telah menikah lagi beberapa tahun lalu karena suaminya telah meninggal dunia akibat kecelakaan. Sebagai “janda kembang” berusia awal empat puluhan dan masih terlihat anggun menarik, tak mudah hidup di desa pedalaman, selalu dijadikan bahan pergunjingan.

Yunita sebenarnya tak begitu senang bahwa ibu kandungnya menikah lagi – apalagi ketika diketahuinya bahwa ayah tirinya adalah Kades Abdul yg terkenal “hidung belang” dan sering main gila dgn istri orang lain. Abdul telah tiga kali menikah dan semua pernikahannya kandas karena perselingkuhannya. Terbukti pada saat duduk di pelaminan bersama dgn ibunya, terlihat sering sekali mata Abdul mampir ke arah Yunita anak tirinya seolah ingin menelanjangi tubuhnya, membuat Yunita resah dan tak betah.

Jilbab Tudung Yunita putri aulia Oleh karena itu pula Yunita jarang pulang ke desa kelahirannya karena segan bertemu dgn ayah tiri yg mata keranjang itu, justru sang ibu yg lebih sering datang ke kota mengunjungi putrinya dan selalu menanyakan kapan kiranya putri semata waygnya itu akan menikah dan mempunyai keturunan.

Sebelum keinginan mempunyai cucu dari putrinya tercapai terjadilah musibah tak terduga: desa kecil itu mengalami wabah demam berdarah – dan salah satu korbannya adalah ibu kandung Yunita. Entah karena memang daya tahan tubuhnya kebetulan sedang lemah atau ada faktor lain, maka proses sakit ibu Yunita itu sangat cepat dan hanya dalam waktu tak ada 2 hari langsung meninggal akibat pendarahan hebat. Kesedihan Yunita tak dapat diuraikan dgn kata-kata, namun sebagai seorang yg taat beragama maka Yunita menerima tabah percobaan yg menimpanya.

Semua acara adat dan tradisi desa diikuti oleh Yunita dgn patuh, semua kebiasaan ritual yg sangat melelahkan dijalankannya pula. Selama upacara sampai dgn pemakaman selesai, Yunita selalu memakai chadar tipis berwarna hitam dan demikian pula jilbab dgn warna serupa. Dihadapan semua yg hadir sebelum jenazah ibunya dimakamkan, Yunita berjanji akan selalu memakai jilbab putih selama satu tahun – jg selama menunaikan tugasnya di RS sekembalinya di yogyakarta , ini sebagai tanda penghormatan dan jg masih berkabung.

Dgn dalih bahwa masih ada sedikit warisan dan peninggalan pribadi ibunya almarhum yg masih harus diurus dan setelah itu disimpan sendiri oleh Yunita, maka sang ayah tiri Abdul dan putra kandungnya (kakak tiri Yunita) bernama Ghazali dgn nama panggilan Ali meminta agar Yunita tak langsung keesokannya kembali ke ibukota, melainkan menginap satu dua malam lagi setelah acara duka cita dgn penduduk desa selesai.

Sebetulnya Yunita telah ingin segera meninggalkan ayah dan kakak lelaki tirinya secepat mungkin, tapi dgn muslihat kata-kata keduanya mengemukakan bahwa apalah pandangan penduduk desa jika putri satu-satunya langsung meninggalkan desa kelahiran sementara tanah pemakaman ibunya masih basah.

Akhirnya Yunita mengalah dan menelpon RS tempatnya bekerja bahwa ia baru akan kembali bekerja dua hari kemudian – sebuah kesalahan yg tak dapat dibayar atau ditebus kembali dgn apapun. *** Di sore hari itu hujan turun dgn amat deras – disertai suara petir dan guntur silih berganti, karena itu jalanan diluar sepi tak ada tukang jualan.

Setelah makan malam bersama ayah dan kakak laki tirinya, Yunita dgn sopan santun mengundurkan diri masuk kamar tidurnya dan mulai membenahi pakaian di kopernya. Karena malam minggu maka para pembantu pun diizinkan Abdul pulang ke rumah masing-masing. Abdul dan Ali jg berpamitan dgn Yunita dan mengatakan bahwa mereka masih harus selesaikan pelbagai urusan kantor di kelurahan yg jg ada hubungannya dgn persoalan catatan sipil.

Tanpa curiga dan bahkan merasa lega, Yunita melepaskan kedua laki-laki itu dan melihat mereka menghilang di tikungan sudut jalan dgn mengendarai motor masing-masing di tengah arus hujan lebat. Sangat naif sekali Yunita mengira bahwa keduanya betul-betul pergi – padahal mereka hanya naik motor sekitar tiga menit, menyembunyikan motor mereka di belakang ruangan sholat pelataran jual pompa bensin, lalu dgn memutar jalan kaki sedikit telah kembali lagi memasuki kebun belakang rumah.

Hujan yg sangat deras disertai bunyi petir dan guntur memudahkan dan menutup semua bunyi langkah kaki mereka ketika memasuki pekarangan rumah dari belakang. Bahkan bunyi terputarnya kunci pintu belakang sama sekali tak dapat didengar oleh Yunita yg merasa aman seorang diri di rumah dan sedang bersiap untuk mandi menghilangkan kepenatan tubuhnya.

Baju tidur telah digantungnya di kamar mandi, demikian pula celana dalam bersih putih berbentuk segitiga kecil, sedangkan bh-nya yg berukuran 34B serta celana dalam yg dipakainya telah dilepaskan dan terletak di ranjang. Hanya jilbab hitamnya masih menutup rambutnya yg bergelombang melewati bahu, sedangkan badan yg langsing namun sintal menggairahkan setiap lelaki dibalut dgn kain batik kemben.

Sebagaimana pada umumnya wanita pedesaan yg akan mandi di sungai, maka kain kemben itu dibawah menutup setengah betis sedangkan bagian atas pas-pasan dilipat di tengah melindungi tonjolan buah dada. Dgn hanya terlindung balutan kain kemben itu Yunita keluar dari kamar tidurnya untuk berjalan lima meter memasuki kamar mandi namun merasa aneh bahwa lampu di gang mati padahal dua menit lalu masih menyala ketika ia membawa celana dalam bersih, baju tidur dan handuk ke kamar mandi itu.

Yunita putri aulia Disaat Yunita meraba-raba dinding untuk mencari tombol lampu, tiba-tiba ia merasa tubuhnya disergap dari belakang dan sebelum ia sempat berteriak, mulutnya jg dibekap dan disumbat oleh seseorang. Meskipun sangat kaget, Yunita langsung berontak sekuat tenaga dan berusaha menendang ke kiri dan ke kanan, namun pukulan tinju keras menghantam ulu hati, membuatnya kehilangan nafas dan menjadi lemas lunglai.

Kesempatan ini segera dipakai oleh salah satu lelaki penyergapnya yaitu Abdul untuk menggendong dan membawa Yunita ke kamar tidurnya sendiri yg memang letaknya paling dekat dgn kamar mandi. Sementara itu Ali mengencangkan kembali sekring listrik yg tadi sengaja dikendorkan sehingga tak ada aliran listrik, kemudian kembali ke kamar Yunita untuk membantu ayahnya menikmati mangsa mereka.

Lampu yg telah menyala kembali kini memberikan cahaya cukup, menampilkan dgn jelas apa yg sedang terjadi di kamar tidur : Yunita si cantik direbahkan di tengah ranjangnya sendiri yg cukup besar. Tubuhnya nan ramping namun sintal menggeliat-geliat berusaha melepaskan diri dari tindihan ayah tirinya, Abdul, yg penuh kerakusan sedang melumat bibir Yunita dgn mulut besarnya yg berbau rokok. Abdul tahu bahwa putri tirinya ini sangat benci terhadap lelaki merokok – oleh karena itu ia senang sekali saat ini dapat melumat mulut Yunita dgn bibir manisnya hingga membuatnya membuka dan menerima uluran lidah penuh ludah berbau rokok miliknya.

Terlihat Yunita berusaha selama mungkin menahan nafas agar tak mencium bau yg sangat tak disenanginya itu, namun akhirnya terpaksa menerima limpahan ludah sang ayah tiri serta lidahnya yg berusaha mengelak kini telah ditekan dan disapu-sapu oleh lidah ayahnya yg kasar itu. Akibat rontaan Yunita maka kain batik kemben yg menutup tubuhnya hanya sampai batas atas dada itupun terlepas dan dgn mudah ditarik ke bawah oleh Abdul dan Ali, kemudian diloloskan melewati pinggul Yunita yg bergeser menggeliat ke kanan dan ke kiri dgn tdk teratur sehingga kini tubuhnya polos bugil tanpa tertutup sehelai benangpun, menyebabkan kedua lelaki durjana itu makin bernafsu melihatnya.

Yunita mulai mengalirkan air mata karena sadar nasib apa yg akan segera menimpanya dan menyesali dirinya sendiri kenapa mau dibujuk untuk menginap lagi dua malam di rumah yg dihuni dua srigala itu. Abdul tak perduli akan tangisan putri tirinya karena nafsu birahi yg selama ini tertahan sudah naik ke ubun-ubunnya, didudukinya perut datar Yunita hingga gadis itu jadi sukar bernafas dan kembali diciumi berulang-ulang bibir ranum Yunita, kembali dijarahnya rongga mulut Yunita yg hangat dgn lidah kasarnya.

“Eeeehmmm, emang dasar perawat dari kota, mulut atasnya aja harum begini, gimana mulut bawahnya… sebentar lagi abah mau nyicipin, nyerah aja ya nduk, percuma teriak enggak ada yg denger,” demikian celoteh Abdul sambil berulang-ulang meneteskan ludah yg bau, membuat Yunita merasa amat mual.
“Iya, percuma berontak, pasti cuma akan makin pegel dan sakit badannya. Ikut aja nikmati permainan kita berdua, pasti belon pernah ngalami ginian kan di kota?” ujar Ali menyebabkan Yunita semakin takut.

Sementara itu Ali tak mau kalah dan ikut beraksi : kedua kaki Yunita yg menendang kesana-sini, ke kiri dan ke kanan, dgn sigap ditangkap dan dicekalnya di pergelangan sehingga Yunita jadi sukar berontak lagi. Tak hanya sampai disini saja : telapak kaki Yunita yg halus licin dan peka diciumi dan dijilat-jilatnya, membuat Yunita terkejut dan semakin menggelinjang kegelian. Apalagi ketika satu persatu jari kakinya dikulum oleh Ali, celah jari kakinya jg dijilat-jilat, membuat ronta kegelian Yunita semakin sukar dikendalikan, dan ini menambah nafsu birahi Abdul yg tengah menindih tubuhnya.

Kedua pergelangan tangan Yunita direjangnya diatas kepala yg masih tertutup jilbab sehingga tampak ketiak tercukur licin yg menjadi sasaran ciuman dan gigitan Abdul sehingga mulai muncul cupangan-cupangan merah disana. Yunita yg kini lepas dari ciuman buas ayah tirinya berteriak sekuat tenaga, namun deras hujan angin disertai dentuman petir dan guntur menutup teriakan minta tolong memelas hati itu. Abdul merejang dan menekan kedua pergelangan tangan Yunita diatas kepalanya dgn tangan kiri sementara tangan kanannya kini mulai meremas-remas bukit gunung kembar di dada putri tirinya yg amat menggemaskan itu.

Buah dada putih montok kebanggaan Yunita yg sampai saat ini tak pernah disentuh lawan jenisnya kini menjadi sasaran Abdul : selain diremas dan dipijit dgn kasar, putingnya yg berwarna merah tua kecoklatan itu jg diraba dan diusap-usap, sesekali jg ditarik, dipilin bahkan dipelintir ke pelbagai arah oleh Abdul, mengakibatkan rasa geli dan sekaligus jg ngilu tak terkira bagi Yunita.

Yunita putri Yunita tetap berusaha berontak sambil menangis sesenggukan, wajah cantiknya terlihat semakin ayu manis tetap di bawah jilbab hitamnya, tapi dirasakannya daya tahannya untuk melawan semakin berkurang. Abdul yg telah sering menggarap banyak perempuan entah yg telah bersuami, maupun janda dan bahkan jg perawan di desa sekitar situ merasakan bahwa perlawanan Yunita mulai menurun.

“Hehehe, mulai lemes ya, Nduk? Gitu donk, pinter banget nih anak manis, ntar lagi diajak ngerasain apa itu surga dunia, tapi sekarang belajar dulu gimana ngisep sosis desa alamiah. Nih sosis makin diisep makin jadi gede, ntar malahan bisa keluarin sari jamu awet muda, mau nyoba kan?” seringai Abdul.

Yunita tdk langsung mengerti maksud kata-kata Abdul, ia merasakan tubuh ayah tirinya yg hampir delapan puluh kilo itu kini tak menduduki perutnya, melainkan bergeser ke atas dan meletakkan kedua lututnya hampir setinggi lipatan ketiaknya, sehingga dalam posisi ini wajah cantik Yunita langsung berhadapan dgn selangkangan Abdul.

Dgn tetap merejang dan menekan kedua pergelangan tangan Yunita ke kasur dgn satu tangan kiri saja, Abdul kini dgn sigap melepaskan ikat pinggang serta ritsluiting celananya. Sebagai wanita dewasa dan jururawat, Yunita kini paham apa kemauan Abdul dan dgn penuh ketakutan berusaha mati-matian meronta.

Tercium bau tak menyenangkan dari celana dalam ayah tirinya yg mungkin hari itu belum diganti – yg mana segera diturunkan pula oleh Abdul dan bagaikan ular Cobra yg mencari mangsanya, keluarlah rudal kebanggaan Abdul. Yunita putri aulia Kemaluan Abdul yg besar panjang berurat-urat serta di-khitan itu kini mengangguk-angguk di depan wajah Yunita yg berusaha melengos ke samping. Reaksi penolakan semacam ini sudah biasa dialami dan ditunggu Abdul.

“Hehehe, biasa tuh perempuan, selalu malu-malu ngeliat barang lelaki, padahal dalam hati kecil udah pingin ngerasain ya. Tapi sebelumnya bikin si Otong makin binal, ayooh buka tuh bibir lebar-lebar, kulum, isep dan jilat dulu nih sosis alam sampe ngeluarin pejuh obat awet muda.” Yunita merasa amat jijik melihat k0ntol Abdul dan tak mau menyerah begitu saja, namun ayah tirinya sudah berpengalaman bagaimana mengatasi penolakan perempuan – dicubitnya puting susu Yunita yg telah tegak mengeras dgn memakai kukunya sehingga Yunita menjerit kesakitan atas perlakuan sadis ini.

Kesempatan ini telah dinantikan ayah tirinya : segera alat kelelakiannya yg memang telah bersiap di depan wajah Yunita ditempelkan ke bibirnya yg tentu saja Yunita segera menutupnya kembali. Abdul menyeringai sadis dan kini jari-jarinya yg sedang mencubit puting susu Yunita dipindahkan untuk memencét hidung mancung bangir milik putri tirinya sehingga Yunita kelabakan megap-megap mencari udara, otomatis tanpa dikehendaki mulutnya kembali membuka.

Kali ini tanpa ada ampun lagi kejantanan Abdul menerobos masuk diantara kedua bibir basah merekah dan memasuki rongga mulut Yunita yg hangat basah. Yunita merasa sangat jijik dan ingin mengeluarkan kemaluan yg sedang memerawani mulutnya itu, namun apalah dayanya sebagai perempuan lemah dikeroyok dua laki laki perkasa, apalagi kini ayah tirinya kembali merejang kedua tangan ke atas kepalanya yg masih tertutup jilbab, sedangkan tangan satunya tetap memencét hidungnya hingga mulutnya tetap terpaksa untuk terbuka untuk mencari nafas.

Abdul kini mulai memaju-mundurkan k0ntolnya di mulut Yunita, setiap gerakan maju selalu lebih dalam daripada sebelumnya, menyebabkan Yunita tersedak setiap kalinya, ingin batuk tapi tdk bisa.

“Hehehe… nah, gimana rasanya, Nduk, dirajah dan diperkosa mulutnya, enak kan? Abah enggak bohong lan! Iyaaa… mulai pinter nyepongnya, teruuus… iyaaa… gituuuu… kulum nyg bener! Aaaaaah… pinteer emang putri abah satu ini! Ayo, iseeeep nyg kuaaat… jilaaaat… iyaaa… abah udah mau keluaar nih, ooaaah!!!” akhirnya Abdul hanya berhasil memasukkan sekitar setengah dari k0ntolnya ke mulut Yunita.

Ujung kemaluan Abdul kini menyentuh, memukul-mukul dinding rahang Yunita di ujung kerongkongannya, menyebabkan Yunita berkali-kali tersedak menahan rasa mual ingin muntah. Rasa ingin muntah itu mengalami puncaknya ketika alat kejantanan Abdul terasa semakin membesar dan berdenyut-denyut, hingga akhirnya…

“Aaaaaah… iyaaaaaaa… nduuuuuk… ini abah keluaaaaar! Pinter banget, Nduuk… ayo, jangan ada yg dibuang! Teguk, abisin semuanya, Nduuuk… aaaah… iyaaaaa!!” Abdul menggeram bagai binatang buas disaat ia dgn penuh nikmat menyemprotkan lahar panasnya ke mulut Yunita.

jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (3) Berbeda dgn Abdul yg sedang dilanda orgasme, Yunita merasa sangat terhina dan terpaksa menghirup sperma ayah tiri yg saat itu sangat dibencinya. Cairan kental hangat itu bagai tak henti menyembur dari lubang di puncak kemaluan Abdul, memenuhi kerongkongan Yunita, terasa sepat agak asin dgn bau khas sperma laki-laki.

Pertama kali merasakannya membuat perawat cantik berkudung ini tersedak ingin muntah. Namun Abdul bukan anak kemarin sore yg baru masuk usia belasan – kedua tangannya dgn sangat kuat segera memegangi kepala Yunita yg berjilbab sehingga Yunita jadi tak berkutik sama sekali, k0ntol Abdul yg memang besar tetap memenuhi rongga mulut mangsanya dgn sempurna sehingga tak ada ruangan bagi Yunita untuk melepehkan cairan yg dirasakannya sangat menjijikkan itu.

Yunita hanya dapat mencakar-cakar lemah kaki Abdul dgn kukunya yg rapih terawat karena lengan atasnya telah ditindih dan ditekan ke kasur dgn kasar oleh lutut ayah tirinya sehingga tdk banyak dapat digerakkannya untuk melawan. Teguk demi teguk air mani Abdul terpaksa harus ditelannya karena jika tdk maka pasti akan masuk memenuhi dan mencekik jalan nafasnya. Yunita mengharapkan agar nasibnya dijarah kedua lelaki itu telah berakhir disini, namun dugaannya itu sia-sia belaka – ini baru babak pertama penderitaannya.

Setelah sang ayah tiri menarik k0ntolnya dari rongga mulutnya, maka kini giliran sang kakak tiri menagih bagiannya dgn tentunya mendapat bantuan dari sang ayah. Abdul berlutut di samping kiri badan Yunita dan tetap mencekal menekan kedua nadi putri tirinya yg langsing diatas kepalanya yg masih tertutup jilbab dgn tangan kanannya ke kasur, sementara tangan kirinya kembali mengusap-usap buah dada korbannya, Abdul meremas-remas, memijit-mijit dan menyentil-nyentil puting Yunita.

Serangan bertubi-tubi ini kembali menunjukkan hasilnya karena bagaimanapun Yunita berusaha menekan gejolak birahinya, namun tubuhnya yg bahenol penuh dgn hormon kewanitaan kembali mulai mengkhianatinya. Kedua putingnya yg memang selalu mencuat ke atas dirasakannya semakin hangat gatal dan geli menginginkan ada tangan yg meremasnya. Namun karena tangannya sendiri di rejang ke kasur, maka yg dapat dilakukannya secara tanpa disadari adalah melentingkan tubuh bagian atasnya sehingga buah dadanya semakin membusung keatas.

“Hehehe, nikmat ya, Nduk? Enggak usah malu-malu deh, enak ya pentilnya dirangsang, ntar lagi abah sama Ali pingin ngerasain susu asli, nih abah bantuin supaya keluar susunya,” Abdul bersenyum cabul lalu menundukkan kepalanya dan mulai menyusu di bongkahan payudara Yunita, mulutnya menyedot-nyedot sambil sesekali menggigit puting susu Yunita yg begitu merangsang.
“Aaah, auuw, oooh, udah dong abaah… jangan diterusin, enggak mauu… jangaaaan, lepasiiin, iieeempppphh, eeehhmmmp, jangaaan!” keluh si gadis cantik tanpa daya sambil terus menggeliat-geliat penuh keputus-asaan.

Namun itu semua hanya makin memacu nafsu birahi dan kebuasan kedua lelaki pemerkosanya. Sementara itu, Ali telah menempatkan diri diantara kedua paha Yunita yg begitu halus mulus dgn kulit putih kuning langsat. Kedua tangannya tak henti-henti mengusap-usap betis belalang Yunita – menyentuh dgn mesra kemudian meneruskan elusannya semakin naik ke arah paha, naik dan terus naik menuju ke arah selangkangan Yunita. Nafas kedua lelaki jahanam itu semakin berat mendengus-dengus melihat indahnya bukit kemaluan Yunita – bukit intim itu ternyata licin karena selalu dirawat dan dicukur tandas oleh sang empunya.

“Wuuiiih, memang lain ya perawat dari kota, memeknya kelimis begini, pasti sering diurut dan mandi spa ya?! Abang pengen nyicipi air celah perawan, pasti manis madunya, betul enggak, Neng?” goda Ali.

Tanpa menunggu jawaban, Ali merebahkan diri diantara kedua paha Yunita dan mendekatkan wajahnya ke arah selangkangan yg begitu merangsang nafsu setiap lelaki yg melihat itu. Ali menelungkupkan diri di antara kedua paha mulus yg dipaksa untuk dibuka lebar, betapapun Yunita berusaha mengatupkannya, namun tenaganya kalah dgn kedua lengan Ali yg sangat berotot.

Forum dewasa yg berisikan cerita sex terbaru, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa “Cerita Sex: Anak Tiri Yang Ternoda” dan foto sex bugil tante bispak abg hot terbaru 2016

“Emmmhhhh… emang bener, harum banget nih mémék, pake sabun apa sih, Neng? Atau selalu diolesin minyak wangi ya?” tanya Ali sambil mulai mengecup dan menciumi bukit kemaluan Yunita.

Lidahnya yg kasar tak kalah dgn sang bapak mulai menjelajahi bukit gundul kemaluan Yunita, Ali menjilat dan membasahinya dgn ludahnya, telaten ia menelusuri celahnya yg masih rapat karena belum pernah diterobos siapapun. Bibir kemaluan luar pelindung celah kewanitaan Yunita mulai dibuka oleh jari-jari Ali disertai dgn jilatan naik turun, sesekali berputar, merintis jalan memasuki bagian dalam yg berwarna kuning kemerahan.

“Jangaaan, udaaaaah, sialaaaan, anjiing semuanya, enggak malu dua lelaki main keroyokan dgn perempuan!! Oooooh, udaaaah, stoooop, jangan diterusin, aaaaaah!” Yunita semakin menggeliat geli dan menahan gejolak naluri kewanitaannya yg semakin lemah menginginkan penyerahan total.
“Baguuus amat nih mémék, haruuuum, enggak ada bau pesing sedikitpun, enggak seperti punya lonte desa, rejeki banget bisa ngerasain yg kaya begini,” Ali menjilat semakin ganas sambil menceracau tak karuan.

Gerakan paha mulus Yunita yg mengatup membuka tak teratur tak dipedulikannya karena penjelajahannya kini semakin dalam sampai lidahnya menemukan tonjolan daging kecil berwarna merah jambu yg tersembunyi diantara lipatan bibir kemaluan Yunita bagian dalam.

“Ini dia yg gue cari dari tadi, horeeee akhirnya ketemu jg butir jagung paling lezat… eeeemh, cuppp, cupppp, legitnya nih daging… si neng rupanya enggak disunat ya, jadi ngumpet tuh butir jagung. Tapi udah ketemu nih, jadi perlu diberikan pelayanan extra ya, Neng.” demikian sindir Ali yg kemudian tak berkata-kata lagi karena asyik menjilati kelentit Yunita yg semakin terlihat menonjol keluar.
Aaaaaah, lepaaaaas, lepaaaaaskan, jangaaaan, enggaaaak mauuuuu, oooooooohh, emmmppfhhhh,” suara teriakan putus asa Yunita menggema di malam yg dingin itu, namun tetap dikalahkan oleh bisingnya suara hujan menimpa atap rumah, ditambah pula semakin seringnya gema petir dan guntur yg menggelegar menakutkan.

Abdul yg kembali tak sanggup menahan syahwatnya melihat tubuh Yunita yg telanjang bulat putih mulus meronta-ronta tak berdaya berusaha melawan rangsangan kakak tirinya yg dgn asyik melumat dan menggigit-gigit kelentitnya yg semakin lama semakin memerah, kembali mendekap dan menciumi mulut putri tirinya itu sehingga teriakan Yunita segera teredam.

Sementara itu Ali terus meningkatkan rangsangannya terhadap klitoris Yunita – dijepitnya daging mungil amat peka itu diantara bibirnya yg tebal dan dowér, kemudian dijilatinya dgn penuh nafsu dan semangat sambil sesekali digosok-gosoknya kelentit yg semakin membengkak itu dgn kumis baplangnya dan jg janggutnya. Terutama janggutnya yg hanya tumbuh beberapa milimeter, bagaikan sapu ijuk kaku sehingga sentuhannya dirasakan oleh Yunita ibarat klitorisnya sedang digosok dgn sikat – itu tak dapat ditahan lagi oleh pusat susunan syaraf Yunita yg kini sedang dipenuhi oleh hormon birahi kewanitaannya.

Jutaan bintang kini meledak dihadapan matanya mengiringi gelombang orgasme bagaikan angin taufan menghempas tubuhnya yg melambung ke atas, Yunita mengejang beberapa menit ibarat terkena aliran listrik tegangan tinggi, jeritan yg seharusnya melengking, tertahan oleh mulut dan lidah Abdul, hingga akhirnya badan Yunita melemas dan terhempas kembali ke atas ranjang , menggelepar bagaikan orang sekarat.

Inilah saat yg telah dinantikan oleh kedua lelaki itu – sampai taraf ini mereka akan meruntuhkan pertahanan Yunita : dari perempuan alim berjilbab yg belum pernah disentuh lelaki menjadi wanita binal mendambakan kehangatan tubuh lelaki. Sesudah itu mereka akan bergantian dan jg sekaligus menikmati tubuh Yunita namun dgn cara lebih mesra dan hanya dimana perlu akan sedikit saja dikasari secara halus. Mereka telah telah merencanakan siapa lebih dahulu menikmati lubang yg mana, bahkan mereka sebelumnya telah melakukan undian.

Dalam undian itu Abdul akan pertama merajah mulut atas Yunita dan memaksa menikmati air maninya, sedangkan Ali mengoral mulut bawah sehingga gadis malang itu mengalami orgasme pertamanya. Setelah itu mereka akan bergantian tempat – Ali memaksa Yunita mengoralnya dan menikmati lagi pejuh lelaki kedua dalam hidupnya sementara Abdul akan merebut kegadisan putri tiri yg memang sudah diidamkannya sejak lama. Dan babak terakhir mereka berdua akan threesome mengajarkan Yunita untuk di”sandwich” : Abdul tetap berada di bawah dan menikmati kehangatan celah kewanitaan yg baru direnggutnya , sedangkan Ali akan merenggut keperawanan Yunita yg kedua dgn menembus lubang bulat kecil di belahan pantatnya.

Dalam pelaksanaan maksud jahat mereka itu, keduanya telah sepakat bahwa Yunita akan mereka telanjangi terkecuali jilbab di kepalanya – ini akan memberikan lebih rasa kebanggaan dan ego yg tersendiri : mereka berhasil menjarah seorang gadis alim dan taat tata susila, merebut keperawanannya dan diakhir pergulatan mereka akhirnya si gadis menjadi wanita dewasa yg ke arah dunia luar tetap terlihat alim berjilbab namun di dalam tubuhnya telah terbangun nafsu birahi bergejolak, membuatnya menjadi wanita binal.

Kedua lelaki ayah dan anak itu saling berpandangan penuh kepuasan melihat korban mereka tergelimpang lemah lunglai dilanda kenikmatan. Untuk beberapa saat bahkan keduanya tak perlu memegang, merejang atau bahkan menindih tubuh Yunita, karena si gadis yg telah mandi keringat akibat orgasme pertamanya itu sedang “menderita” kelemasan. Tubuh Yunita yg sedemikian sintal dan bahenol hanya kejang-kejang lemah tanpa busana disertai sesenggukan tangisnya – saat itu tak sadar harus melindungi auratnya yg sedang dijadikan kepuasan mata para pemerkosanya.

Kini Ali dan Abdul menukar posisi mereka untuk memulai babak kedua aksi mereka : Ali dalam posisi rebah setengah menyamping di sisi kiri Yunita, memegangi kedua tangan Yunita di atas kepala yg masih terhias jilbab satin hitam. Tangan kiri Ali kini mendapat kesempatan untuk ekspedisi naik turun gunung daging putih yg disana sini agak merah akibat jamahan kasar Abdul tadi.

Sesuai dgn rencana maka Ali kini mempermainkan buah dada mangsanya dgn lebih halus daripada ayahnya. Ali meraba dan membelai payudara berkulit halus itu dgn penuh kemesraan ; ibarat seorang ahli benda purbakala sedang menilai cawan porselen dynasti Ming yg sangat langka, mengusap-usap dgn sangat hati-hati.

Jari-jari tangan Ali menaiki lerengnya yg terjal dan dgn lembut menuju ke arah puncaknya yg berwarna merah kecoklatan, ia menyentuhnya sedemikian perlahan dan halus seolah ingin menambah kemancungan dan ketinggiannya. Dan memang Yunita mulai mendesah mengeluh perlahan dgn mata masih setengah tertutup karena merasakan buah dadanya mengalami godaan yg sangat berbeda dgn kekasaran yg dialaminya tadi oleh Abdul.

“Wah, ini tedoy emang betul yahud, legit dan kenyal banget. Bisa dijadikan guling nih, sambil nyusu anget, pasti lebih sehat dari susu kaleng. Enggak tahan lagi nih, mau néték dulu ah, boleh ya?” celoteh Ali sambil meremas kedua buah dada dan bergantian menyedot menggigit kedua puting merah mencuat milik Yunita, menyebabkan Yunita semakin menggelinjang meronta tapi semua sia sia saja.

Sementara itu Abdul telah menempatkan diri diantara paha Yunita – mulutnya dgn bibir tebal berkilat karena berulang kali dibasahi oleh lidahnya sendiri ibarat ular python telah menemukan mangsa. Yunita masih di dalam keadaan setengah ekstase akibat orgasme menyadari apa yg akan segera dialaminya, ia berusaha lagi memberontak sekuat tenaga tapi tetap tak berdaya menghadapi kedua lawan yg demikian kuat dan sedang dipenuhi oleh hawa nafsu dan bisikan iblis.

Abdul kini berusaha menekan nafsu iblisnya dan bertindak seolah seorang suami di malam pengantin akan merenggut mahkota kegadisan istrinya. Diciuminya secara bergantian telapak kaki Yunita, jari-jari kakinya, betis langsing halus mulus, paha licin putih, naik melusur ke atas ke arah selangkangan Yunita yg tercukur rapi. Kini Yunita mulai merasakan malu sehingga tak terasa pipinya yg basah airmata merona merah, malu karena tubuhnya tanpa dikehendaki dan diluar kemauannya sendiri mulai merasakan pengaruh rangsangan dari ayah dan saudara tirinya.

Selangkangan Yunita yg masih terasa pegal kaku karena tadi dipaksa membuka oleh Ali, kini kembali dipaksa menguak. Kedua pahanya yg sekuat tenaga ingin dirapatkan, telah dipaksa lagi dipengkang sehingga terasa ngilu. Kedua lutut Yunita menekuk dan diletakkan di bahu kiri kanan Abdul – sementara mulut dowérnya semakin mendekati mengendus-endus lipatan paha Yunita sampai akhirnya menempel di bukit Venus putri tirinya itu.

“Duuuuh, sialaaan! Ini mémék emang buatan alam kelas satu, enggak pernah ngeliat bukit gundul licin kayak gini. Pinter banget ngerawatnya, hmmh… kalo mau tetep tinggal disini, ntar abah cukurin tiap hari, terus langsung dijilatin. Mau ya, Nduk? Mmmmmh, udah keluar madu lagi, duuuh manisnya, Nduk!” Abdul berceloteh sendiri sambil mulai menjilati kemaluan Yunita.

Lidahnya yg kasar menyapu dan menyelinap diantara celah bibir kewanitaan Yunita, menjilati dinding yg telah licin akibat madu pelumas disaat orgasme beberapa menit lalu, ditelusurinya bibir bagian dalam memek kemerah-merahan itu, menuju lipatan atas dan akhirnya menemukan apa yg dicarinya. Kembali Yunita diterpa rasa kegelian yg tak terkira, klitorisnya yg beberapa saat lalu menjadi sasaran lidah Ali sehingga memaksanya naik ke puncak orgasme, kini dilanjutkan dan diulang kembali.

Ibarat seorang yg baru dipaksa mendaki, akhirnya mencapai puncak gunung, tapi tak diberikan waktu istirahat untuk menuruni tebing ke bawah – kini mulai lagi diseret dan dipaksa sekali lagi mendaki ke arah puncak. Yunita tak rela diperlakukan seperti ini, dikutuknya kelakuan kedua lelaki yg sedang menjarahnya itu, namun apalah daya seorang wanita dalam keadaan seperti ini.

Yunita berusaha menekan semua perasaan nikmat yg semakin menguasai tubuhnya, badannya yg sejak tadi meliuk meronta, kini dibiarkannya lemas lunglai, ia berharap bahwa dgn memperlihatkan reaksi “dingin” itu kedua pemerkosanya akan bosan dan menghentikan kegiatan mereka. Sayang sekali lawan yg dihadapinya – terutama Abdul bukan lelaki sembarang dan ingusan, ia telah mempunyai pengalaman cukup banyak dan tahu bagaimana memaksa bangun gairah seorang wanita yg sedang dikuasainya.

Bibir Abdul yg tebal kini mengecup dan melekat di kelentit idamannya, tak dilepaskannya sasaran utamanya itu, dicakupnya daging kecil berwarna merah jambu milik Yunita diantara bibirnya, dipilinnya ke kiri dan ke kanan, ditekan dan dijepitnya dgn gemas diantara bibirnya, dilepaskannya sebentar dan digantinya dgn sapuan lidah ampuhnya, demikian terus menerus dan berulang-ulang. Diserang dgn cara sangat ampuh seperti ini, Yunita akhirnya harus mengakui kekalahannya – rambutnya yg hitam bergelombang menjadi kebanggaannya telah acak-acakan tergerai, hanya jilbab penutupnya yg masih belum terlepas, disertai rintihan putus asa, tubuh sintal bahenolnya kembali kejang di orgasme keduanya.

“Toloooong, lepaaaaas, janggaaaan diterusiiiiiin, aaaauuuuuwww, aaaiiiihh, enggggggak maaauuu, tolooong, oooouuuuuuuw, eeemmmppffffhh!” kembali Yunita melenguh menjerit putus asa berusaha menembus bisingnya deraian hujan menimpa atap rumah, dan kembali mulutnya tertutup oleh bibir Ali yg berusaha sejauh mungkin mencium mulut adik tirinya dgn penuh kemesraan.

Abdul merasa puas melihat hasil rangsangannya – ia tahu bahwa di saat ini Yunita sedang dilanda badai orgasme lagi – dan saat ini adalah saat yg terbaik untuk menembus celah memeknya. Tak ada rasa yg lebih nikmat bagi Abdul ketika menembus keperawanan seorang gadis pada saat otot-otot dinding memeknya berdenyut berkontraksi karena orgasme. Saat itu adalah saat paling membahagiakan bagi pria berpengalaman : merasakan k0ntolnya menembus liang kewanitaan wanita yg seolah dipijit diurut-urut oleh dinding nan licin basah namun masih sangat sempit dan penuh kehangatan.

Semuanya itu disertai dgn wajah si wanita yg seolah-olah tak percaya dgn apa yg terjadi : nikmat sakit, sakit tapi nikmat. Abdul kini telah berhasil menempatkan kepala k0ntolnya yg keras, tegang berwarna hitam, dihiasi oleh pembuluh darah yg melingkar-lingkar menghiasi sepanjang batangnya. Kepala k0ntolnya yg gundul bagaikan topi baja serdadu terlihat sangat gagah dgn lobang di tengah agak membuka seperti mulut ikan, mulai memasuki memek putri tirinya.

Mili demi mili, sang k0ntol maju menusuk membelah celah yg belum pernah dijarah oleh lelaki manapun itu – disertai rasa kepuasan Abdul namun penderitaan bagi Yunita yg menangis tersedu-sedu, menjerit, merintih memilukan hati mengiringi kehilangan miliknya yg selama ini sangat dijaga dan diharapkannya akan diberikan kepada suami tercintanya kelak. Habislah harapan muluk Yunita untuk memasuki malam perkawinan dgn kesucian yg utuh, punah sudah impiannya untuk meneteskan air mata kebahagiaan di dalam pelukan kekasih dan suaminya ketika dgn penuh kerelaan ia mempersembahkan mahkota kegadisannya.

Sesuai dgn rencana maka saat ini Abdul tak memperlakukan Yunita dgn kasar, ia tdk menusuk secara brutal membabi buta ke dalam memek sang putri, melainkan agak diputar-putarnya gerakan maju mundur sang k0ntol.

“Nikmaaat tenaaaan, Nduk… begeuuuuur teuuuiiiing no bahenoool, abaaah dikasiiiih hadiaaaah begini enaaak, ntar abah ajariiiin yg lebiiiiih mantaaaab lagi. Ayooooh goyaaaangin tuh pinggul, jangan dieeem aja. Abaaah cobaa masuuuk dalemaaaaan lagi, Neng… jangan berontaaak ya, ntaar sakit, terima pasraaah aja!!” dengus Abdul sambil dgn yakin memaju-mundurkan pinggulnya, ibarat pompa air berusaha mencari sumber di tempat yg semakin dalam.

Sesekali disodoknya ke arah atas, kiri, kanan, bawah, lalu diulangnya lagi dari awal. Gerakan ini menyebabkan dinding tempik Yunita yg sedang mengalami penjarahan pertama seolah diaduk – diulek dan digesek dgn penuh kemesraan. Sementara Ali tetap memegangi kedua nadi Yunita sambil mulutnya tak kunjung berhenti menyusu di puting kiri kanan Yunita yg tetap mengeras bagaikan batu kerikil.

Kedua lelaki itu penuh kepuasan mengamati wajah Yunita yg telah mendongak ke atas namun tetap menggeleng ke kiri dan ke kanan. Wajah cantik Yunita semakin terlihat kuyu dan lemas, hidung bangirnya kembang kempis mendengus dan bernafas semakin cepat, sementara bibirnya yg mengkilat basah setengah terbuka.

“Auuummph, aaaaaoooohh, eeemmmpppph, eeeeeengghhh, aaaaaauuuww, ssssshhhhhh, udaaaah doong, aaaahhhh, udaaaaah, saaakiiiiiiit, ngiluuuuuu, ouuuuhhh, eeemmpphh, iiyyyaaaa, auuuuw, iyaaaaa,” tak sadar lagi Yunita mengeluarkan suara khas wanita yg sedang dilanda kenikmatan birahi.

Abdul dan Ali yg rupanya telah beberapa kali mengerjai wanita secara bersama, kembali saling berpandangan dan yakin bahwa pertahanan Yunita telah hancur luluh dan kini tinggal dilanjutkan permainan seksual ini untuk mengubah Yunita dari gadis alim menjadi wanita dewasa yg bukan saja hilang rasa malunya bersenggama, namun sebaliknya bahkan tak segan segan menagih jatah untuk selalu dipuaskan.

Merasakan bahwa Yunita telah tak sanggup melawan, maka mereka berdua mengganti lagi posisi badan mereka : Ali kini setengah terlentang dgn k0ntol telah berdiri mengacung ke udara, Yunita diangkat oleh Abdul dan diatur berlutut sambil menungging untuk “memanjakan” k0ntol Ali, sedangkan dari belakang sang ayah tiri kembali mendorong dan memasukkan k0ntolnya ke memek Yunita.

Meskipun telah demikian licin basah, namun karena baru saja diperawani maka tetap terasa perih sakit disaat k0ntol ayah tirinya mulai masuk sehingga Yunita tak sadar memekik dan melepaskan k0ntol Ali yg sedang dikulumnya sambil menggoyang pinggul seolah ingin melepaskan diri dari penetrasi Abdul. Namun Abdul telah memegangi pinggang Yunita yg ramping sehingga pinggulnya tak dapat digeser ke samping – sementara Ali jg dgn mantab menjambak jilbab putih dan menekan kembali kepala Yunita untuk melakukan “service” ke rudalnya yg berukuran tak kalah dgn milik ayah tirinya.

Ketika Abdul semakin dalam mendorong k0ntolnya maka Yunita kembali merasa perih ngilu kesakitan, mungkin karena bagian selaput daranya yg beberapa menit lalu sobek kembali terbuka lukanya. Yunita berusaha mencakar paha sang pemerkosa dibelakang pinggulnya dgn kuku-kuku kedua tangannya, namun Abdul sudah siap dan terbiasa dgn reaksi perlawanan wanita dalam posisi seperti ini. Kedua tangan Yunita yg menggapai ingin menyakar itu lekas ditangkap, dicekal pergelangan nadinya dan lalu ditelikung ke belakang.

Dalam kedua tangannya berada dipunggung dan ditelikung maka Yunita tak dapat menunjang lagi badan bagian atasnya, namun ini justru memudahkan Ali yg sedang disepong untuk menjambak jilbab dan rambut Yunita, lalu dgn ritmis diturun-naikkan dgn irama yg sangat memuaskan “otong”nya. Dgn satu tangan Abdul tetap menelikung nadi mangsanya sehingga Yunita tak dapat mencakar, sementara tangannya yg lain meremas-remas buah dada Yunita yg menggantung indah dan memilin serta memijit-mijit putingnya.

Forum dewasa yg berisikan cerita sex terbaru, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa “Cerita Sex: Anak Tiri Yang Ternoda” dan foto sex bugil tante bispak abg hot terbaru 2016

Cerita Dewasa Ngesex Calon Besan

Forum dewasa yg berisikan cerita sex terbaru, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa “Cerita Dewasa Ngesex Calon Besan” dan foto sex bugil tante bispak abg hot terbaru 2017.


Kejadian ini berlangsung beberapa bulan yg lalu, ketika anakku melangsungkan pesta pernikahannya di kota kecil Pr di Jawa Timur yaitu di tempat calon mertuanya bernama Pak Sun (60 Thn) dan Bu Sun (46 thn) yg masih menjadi kepala desa.

Cerita sex terbaru, Aku dan istriku sebetulnya tdk setuju kalau anakku yg baru saja lulus dari salah satu universitas di Jawa Tengah harus segera kawin dgn pacarnya yg sama-sama baru lulus. Rencanaku biar anakku dapat kerja yg mapan dahulu sebelum kawin, tetapi Pak Sun dan Istrinya terus mendesak agar mereka berdua cepat-cepat di kawinkan agar tdk terjadi hal-hal yg tdk diinginkan dan Bu Sun sudah ingin menimang cucu, katanya. Tetapi karena anakku setuju dgn permintaan keluarga yg perempuan, ya sebagai orang tua tdk bisa berbuat lain selain merestuinya.

Tiga hari sebelum hari pernikahannya, aku dan istriku sudah berada di kota Pr. dan disambut di rumahnya dgn hangat oleh calon besanku Pak Sun dan Bu Sun serta keluarganya. Aku dan istriku benar-benar dibuat surprise dan tdk terbayangkan sebelumnya, orang-orang yg ada di rumah itu begitu hormat kepada keluarga Pak Sun dan yg lebih mengherankan lagi, rumahnya begitu besar dikelilingi tanaman buah-buahan dan ada pendoponya yg luas serta di salah satu sisinya ada seperangkat Gamelan Jawa. Bagaimana tdk heran, jabatan Pak Sun hanyalah kepala desa yg tdk menerima gaji, tetapi hanya menerima tanah bengkok selama dia menjabat.

Yg membuatku lebih terpesona adalah Bu Sun calon besanku perempuan, walaupun usianya sudah tdk muda lagi, tetapi dgn tubuh yg semampai tdk terlalu tinggi serta kain kebaya yg dipakainya serasi dgn warna kulitnya yg putih bersih dan kuperhatikan Bu Sun terlihat sangat anggun, apalagi sisa-sisa kecantikan diwaktu mudanya masih terlihat, sehingga membuatku terpesona dan tdk ingin melepas memandangnya dan kadang-kadang aku harus mencuri-curi pandang, agar istriku tdk mengetahuinya apabila aku memandangnya soalnya kalau sampai ketahuan, bisa-bisa terjadi perang besar. Bu Sun bukannya tdk tahu kalau sering kupandangi dgn penuh kekaguman dan ketika beberapa kali bertemu pandang, kuperhatikan dia selalu tersenyum sehingga terlihat giginya yg putih dan rata.

Hari pertama kedatanganku di kota ini, setelah makan siang bersama calon besanku, Bu Sun lalu disuruh suaminya menghantarkan aku dan istriku untuk beristirahat di rumah sebelah.

“Buu…, sana antar calon besan kita untuk istirahat di tempat yg sudah kita siapkan”, kata Pak Sun dan sesampainya di rumah sebelah yg masih satu halaman dgn rumah induk, tenyata rumahnyapun cukup besar dan kamar yg disediakan untukku dan istriku pun sangat besar walaupun tdk ada kamar mandi di dalamnya.

Setelah menunjukkan tempat-tempat yg dianggap perlu termasuk kamar mandi yg agak jauh di belakang, lalu Bu Sun pamit untuk ke rumah sebelah.

“Terima kasih…, Mbaak…, atas semuanya”, kataku sambil menjabat tangannya dan jabatan itu tdk kulepas dgn segera dan Bu Sun-pun tetap tdk menarik tangannya dan kembali kulihat senyumannya yg manis, sambil tiba-tiba menarik tangannya setelah mungkin merasa tangannya kujabat terlalu lama dan terus meninggalkanku kembali ke rumah sebelah.

Sore harinya ketika aku dan istriku sedang duduk di teras, kulihat Pak Sun dan istrinya muncul dari belakang lalu duduk ngobrol menemani kami berdua dan tdk lama kemudian datang dua wanita dgn membawa pisang goreng serta teh panas. Setelah ngobrol kesana kemari membicarakan acara untuk pernikahan, Bu Sun segera pamit ke belakang entah untuk apa, sehingga obrolan dilanjutkan oleh kami bertiga saja.

Karena tadi aku terlalu banyak minum air, terasa aku ingin pipis dan setelah permisi kepada Pak Sun untuk ke belakang sebentar, lalu aku beranjak ke belakang menuju kamar mandi yg tadi ditunjukkan oleh Bu Sun, karena sudah begitu kebelet untuk pipis lalu sambil menurunkan ritsluiting celanaku serta mengeluarkan meriamku, kudorong pintu kamar mandi dgn bahuku dan terus masuk kamar mandi, tetapi alangkah kagetnya ketika di dalam kamar mandi itu kulihat Bu Sun sedang berada di kamar mandi serta telanjang bulat seraya menggosok-gosok badan dgn tangannya.

Kulihat Bu Sun-pun begitu terkejut ketika mengetahui ada orang masuk ke kamar mandi dan secara reflek Bu Sun berteriak kecil, “Maas”, sambil berusaha menutupi badannya dgn kedua tangannya. Setelah pintu kamar mandi kudorong tertutup, kudekati dia sambil kupegang kedua bahunya serta kukatakan dgn suara sedikit berbisik karena takut ada yg mendengar.

“Mbaak…, maa’aaf…, saya tdk tahu kalau…, Mbak lagi mandi”.
“Sudah.. Laah”, sahut Bu Sun jg sedikit berbisik, “Sana…, keluar…, nanti ada yg lihat…, lagian mau apa siih…, Maas?”.
“Saya…, kebelet pipis…, Mbaak”, sahutku dan disambutnya dgn kata-kata,..
“Cepaat…, pipisnya…, dan cepat keluar”.

Tanpa komentar lagi aku keluarkan meriamku yg setengah berdiri karena melihat payudara serta memek Bu Sun yg ditumbuhi bulu-bulu yg hitam lebat dan aku terus pipis dgn posisi menyamping dan sambil kulirik, kulihat mata Mbak Sun sepertinya sedang tertuju ke arah meriamku.

Setelah selesai menyelesaikan kencingku dan kumasukkan meriamku kembali ke dalam celana, sambil beranjak keluar pintu kamar mandi kusempatkan tangan kananku mencolek payudaranya yg tertutup setengah oleh tangannya sambil kuucapkan.

“Mbaak…, maa’aaf…, yaa”, dan Bu Sun secara reflek menampar tanganku seraya berkata setengah berbisik, “Kurang…, ajaar…, awas…, nanti”.

Aku segera kembali ke depan dan kulihat istriku dan Pak Sun masih ada sambil ngobrol dan aku kembali duduk seolah olah tdk terjadi apa-apa, tetapi istriku tiba-tiba nyeletuk”, Paak…, pipis saja…, bajunya sampai basah semua”, aku tdk menanggapi kata-kata istriku itu dan kucoba menenangkan diri sambil kuambil minumanku di gelas.

Setelah beberapa saat kami meneruskan obrolan, Bu Sun datang dari arah belakang dan sekarang sudah tdk memakai setelan kebaya lagi tetapi memakai rok terusan, walaupun begitu tetap saja membuatku terpesona apalagi bentuk kakinya yg kecil dam putih mulus, setelah dekat dgn kami bertiga serta duduk disalah satu kursi yg kosong, lalu berkata,

“Buu…, Paak…”, seraya menengokku dan Istriku bergantian.
“Silakan mandi dulu biar terasa segar sebelum kita makan”, dan setelah itu Bu Sun menggeser kursinya sedikit membelakangiku.

Tdk berlama-lama, aku langsung ke kamar mengambil pakaian ganti dan langsung pergi ke kamar mandi. Sengaja kamar mandinya tdk kukunci dgn harapan siapa tahu Bu Sun pun berbuat yg sama seperti tadi, tapi…, kupikir mana mungkin.., jadi segera saja kubuang jauh jauh pikiran itu dan sambil mandi kubayangkan tubuh Bu Sun yg walau sudah berumur dan payudaranya yg terlihat sedikit karena tertutup tangannya tdk begitu besar kira-kira 36D serta sudah agak turun dan memeknya yg tertutup tangan satunya jg mempunyai bulu yg lebat tetapi menurutku masih cukup mempersonaku, sehingga meriamku menjadi bangun dan menjadi lebih tegang ketika batangnya kugosok-gosok dgn sabun.

Sampai mandiku selesai, ternyata harapanku tinggal harapan saja. Dasar pikiran bejat. Ketika kembali ke depan ternyata kedua calon besanku serta istriku masih asyik ngobrol dan sambil duduk kembali aku langsung menyuruh Istriku untuk gantian mandi.

Malam harinya sewaktu makan berempat di ruang makan, entah kebetulan atau karena Istriku dan Pak Sun telah duduk berhadapan terlebih dahulu, sehingga mau tak mau aku dan Bu Sun jadi duduk berhadapan. Ketika sedang nikmat-enaknya makan, tiba-tiba kakiku tersentuh kaki Bu Sun dan anggapanku mungkin tdk sengaja sewaktu menggeser kakinya, apalagi ketika kulihat wajahnya Bu Sun tetap biasa saja seperti tdk terjadi sesuatu dan meneruskan makannya dgn agak menunduk.

Untuk membuktikannya, sambil melepas sendal yg kupakai dan kulirik dimana posisi kaki Bu Sun di kolong meja, lalu pelan-pelan kuletakkan kakiku di atas kakinya yg memakai sendal jepit sambil kupandang wajahnya. Kulihat Bu Sun tdk bereaksi dan tetap saja meneruskan makannya serta kakinya yg kuinjak itu didiamkannya saja, dan pelan-pelan injakanku itu kuberi tenaga sedikit dan terasa Bu Sun secara perlahan-lahan menarik kakinya. Aku diamkan saja kakiku di tempatnya seolah-olah aku menginjaknya secara tdk sengaja, tetapi beberapa saat kemudian terasa kakiku di injak oleh kakinya yg sudah tdk memakai sendalnya lagi, jadi aku mengambil kesimpulan kalau tendangan kaki Bu Sun tadi itu pasti disengajanya.

Aku diamkan saja injakan kakinya dan tdk lama kemudian telapak kakinya di geser-geserkan di atas kakiku dan tentu saja hal ini tdk kubiarkan, jadi sambil tetap meneruskan makan kaki kami terus bermain dikolong meja makan dan lama-lama jadi bosan jg.

Lalu kutarik kaki kananku yg diijaknya menjauh dari kaki Bu Sun dan sambil mengambil gorengan tahu yg agak jauh dari jangkauanku, kugeser kursiku maju kedepan merapat di meja makan dan pelan pelan kuangkat kaki kananku agar tdk ada kecurigaan dari istriku dan Pak Sun serta kuselonjorkan ke depan, maksudku untuk kuletakkan di kursi diantara kedua paha Bu Sun, eh, tdk tahunya terantuk salah satu dengkul Bu Sun dan kulihat Bu Sun agak terkejut sehingga garpu yg dipegangnya terjatuh di atas piringnya dan semua mata tertuju ke arah Bu Sun dan Pak Sun berkomentar,

“Buu…, makannya jangan buru buru…, bikin malu calon besan sajaa”, dan kesempatan ini kugunakan untuk menggeser kakiku dan kuletakkan di ujung kursinya sehingga telapak kakiku terasa hangat terjepit di antara kedua pahanya dan secara perlahan-lahan kuelus-elus salah satu pahanya dgn telapak kakiku dan Bu Sun kulihat memandangku sejenak dgn matanya sedikit melotot dan kembali meneruskan makannya.

Aku mencoba menjulurkan kakiku lebih dalam lagi agar dapat mencapai pangkal paha Bu Sun, tetapi tetap saja kakiku tdk dapat mencapainya, karena kursi yg di duduki Bu Sun agak renggang dari meja makan dan aku mencari akal bagaimana kakiku bisa menyentuh memek Bu Sun. Ketika aku sedang memutar otakku, eh tdk tahunya Bu Sun menggeser tempat duduknya maju ke depan mendekati meja makan ketika akan mengambil buah-buahan setelah makannya selesai dan kesempatan ini tdk kusia-siakan, dgn hanya mengulurkan kakiku sedikit tersentuhlah pangkal pahanya yg terasa sangat halus dan membuat Bu Sun agak terkejut sedikit tetapi setelah itu diam saja.

Lalu kugesek-gesekkan jari kakiku ke memeknya yg terasa tertutup dgn celana dalamnya dan sesekali kuperhatikan mata Bu Sun tertutup agak lama yg mungkin sedang menikmati enaknya gesekan jari kakiku di memeknya, tapi untung istriku dan Pak Sun tdk memperhatikannya karena sedang sibuk dgn buah-buahan yg dimakannya.

Gesekan kakiku terus kulanjutkan sambil ngobrol berempat setelah buah-buahan yg kami makan habis. Ketika Pak Sun sedang bertanya sesuatu kepadaku, tanpa sadar sebelum pertanyaannya kujawab, aku berseru,

“Aduuh…”, sehingga istriku dan kedua calon besanku melihat ke arahku dan istriku langsung bertanya,
“Kenapa…, paah..?” untuk tdk menimbulkan kecurigaan langsung saja kujawab,
“Kekenygan…, dan perutku agak sakit tergencet ikat pinggang”, kataku sekenanya sambil kulonggarkan ikat pinggangku,
“Habis.., makanan calon besan kita terlalu nikmat sih”, tambahku sedikit memuji, padahal aku berseru aduh tadi itu karena kaget ketika kakiku tiba-tiba dicubit oleh tangan Bu Sun yg tanpa setahuku di taruhnya ke bawah meja.

Aku cepat-cepat menarik kakiku dan menurunkannya ketika Pak Sun tiba-tiba bangkit dari duduknya dan mengajakku dan istriku kembali ke teras rumahnya.

Esok harinya, aku dan istriku merencanakan pergi ke kota Mlg, yg jaraknya hanya kira-kira 2 jam perjalanan dgn mobil untuk menjemput anakku yg nomer 2 dan yg sedang kuliah di sana agar bisa mengikuti acara pernikahan kakaknya, tetapi entah karena makanku terlalu banyak atau karena tadi malam ngobrolnya sampai larut malam dan hawa kota kecil Pr, yg agak dingin, perutku terasa sakit atau seperti masuk angin sehingga beberapa kali aku harus ke belakang. Sehingga pagi harinya aku minta istriku saja yg menjemput anakku dgn sopir.

Setelah istriku berangkat, tdk lama kemudian Pak Sun dan istrinya muncul di kamarku serta menanyakan kondisiku.

“Paak…, kata ibu lagi sakit perut yaa…, ma’af…, mungkin ada makanan yg tdk cocok dgn perut bapak.., yaa”, kata Pak Sun dgn penuh rasa khawatir sedang istrinya hanya diam saja di sampingnya.
“ooh…, bukan sakit peruut…, kok…, paak”, sahutku sambil kutinggikan bantalku sehingga posisi tidurku setengah duduk, “cuma…, masuk angin sedikit.., kayaknya.., sebentar lagi jg sembuh”, sahutku seraya kupandangi keduanya bergantian.
“Apa bapak biasa minum obat tolak angin…, biar saya ambilkan.. yaa”, kata Bu Sun.
“aahh…, nggak usah lah buu…, tadi sudah dipijitin sedikit oleh istri saya…, biasanya sih dikerokin…, tetapi karena takut ke Mlg-nya kesiangan…, jadi kerokannya nggak jadi”, sahutku.

“Lho…, Paak.., kalau biasa kerokan…, biar istri saya saja yg ngerokin…, dia itu ahlinya…, saya kalau masuk angin paling cepat dikerokin lalu dipijitnya, langsung sembuh”, sahut Pak Sun.
“Iyaa…, Buu.., tolong dikerokin saja dan setelah itu baru minum obat tolak angin.., soalnya kalau dibiarkan bisa kasep nanti, apalagi besok adalah acara resmi perkawinannya…, ayoo.. sana buu.., ambil alat kerokannya”, tambah Pak Sun dan segera saja Bu Sun pergi meninggalkan kamarku.

Tdk lama kemudian Bu Sun mencul kembali dan dikedua tangannya telah membawa alat kerokan dan segelas air minum serta obat tolak angin dan sambil meletakkan barang bawaannya di meja, Bu Sun mengatakan.

“Paakk…, lebih baik kaosnya dibuka saja”, katanya dan Pak Sun yg masih menemaniku di kamar terus menimpalinya.
“Betuul…, Paak…, ooh…, iyaa… buu”, kata Pak Sun pada istrinya,
“Saya tinggal dulu ya sebentar ke kantor KUA untuk menyelesaikan administrasinya buat besok dan mungkin ke beberapa teman yg undangannya belum kita berikan”.
“Jangan…, lama-lama lho.., paak.., masih banyak yg belum beres.., lhoo..”, sahut Bu Sun sambil keluar pintu kamarku menghantar suaminya pergi.

Tdk lama kemudian Bu Sun muncul kembali sambil menutup pintu kamar,

“Lhoo…, maas…, kok kaosnya belum dibukaa…?”, katanya ketika melihatku masih tiduran dan belum membuka kaosku,
“… Isiin…, mbaak”, sahutku sambil duduk di pinggir tempat tidur.
“Wong wis podo tuwek e kok…, pake isin segala…, wis to.., bukaen kaose…”, kata Bu Sun dgn logat jawa timurnya.

Tanpa disuruh kedua kalinya, segera kubuka kaos yg kupakai dan terus duduk membelakanginya sambil menunggu kedatangannya dari menutup pintu kamar. Sesampainya dia di belakangku dan duduk menghadap punggungku tiba-tiba saja Bu Sun mencubit pinggangku kuat-kuat sambil berkata,

“Maas…, kowe wis tuo…, kok kurang ajar.., tenan.., siih”. Karena cubitannya yg agak kuat dan tanpa kuketahui menjadikanku kaget dan berteriak,
“Aduuh…”, sambil kuputar badanku sehingga kami sudah duduk berhadapan dan kuambil barang-barang kecil ditangannya serta kutaruh di atas kasur serta kupegang kedua bahunya seraya kukatakan,
“Mbaak…, kowe sing marai aku dadi kurang ajar…, lha…, wong kowe…, sing membuatku jadi kesengsem..”, dan kemudian kupeluk rapat-rapat sehingga terasa payudaranya yg tdk besar itu mengganjal di dadaku serta kucium bibirnya dan Bu Sun-pun memelukku serta mengusap-usapkan kedua tangannya di punggungku yg sudah telanjang.

Kujulurkan lidahku ke dalam mulutnya dan terasa di sedot-sedotnya dgn keras dan nafas kami berduapun sudah semakin terdengar keras.

Sambil kuangkat badannya sedikit agar bagian roknya yg diduduki terbebas, lalu kuangkat rok terusannya ke atas dan kususupkan tangan kananku ke dalam serta kupegang payudaranya dari luar BHnya dan terasa sekali payudaranya begitu empuk dan diantara ciuman kudengar Bu Sun berkata,

“sshh…, Maas…, ojo.., nakaal…, too..”, sambil tangan kanannya menggeraygi k0ntolku dari luar celana yg kupakai dan langsung saja kulepas ciumanku dan kuangkat roknya ke atas dan kudengar dari mulutnya hanyalah suara sedikit manja,
“Maas…, ojo…, nakaal…,too..”, tetapi tanpa ada penolakan sama sekali, malahan membantuku melepas roknya dgn mengangkat kedua tangannya ke atas dan setelah roknya terlepas, kulihat badan bu Mar yg begitu mulus mengenakan BH hitam yg tipis tanpa ada busa yg mengganjalnya dan CD-nya jg berwarna hitam.

Tanpa basa basi, langsung saja Bu Sun kurangkul dan kurobah posisinya serta kutelentangkan di atas tempat tidur dan Bu Sun hanya protes,

“Maas…, apa-apaan.., siih…, katanya mau di kerokin…, kok jadi beginii..”, dan sambil mencari kaitan BH di belakang tubuhnya, kujawab saja,
“Sebenarnya…, Mbaak…, Aku sudah sembuh…, masuk anginnya…, sudah hilang sendiri…”.

Setelah kaitan BH-nya terlepas, langsung saja BH-nya kubuka dan kujilat payudaranya serta kusedot-sedot puting susunya yg hitam dan besar dan kurasakan Bu Sun mencoba memasukkan tangan kanannya ke dalam celanaku mencari cari k0ntolku tetapi karena celanaku agak sempit sehingga Bu Sun kesulitan memasukkan tangannya dan langsung saja dia berkata,

“Maas…, bukain celanamu…, aku yoo…, kepingin…, pegang punyamu”, dan tanpa melepas puting susunya yg masih kusedot, kulepas celana dan celana dalamku sekaligus, sehingga aku sekarang sudah telanjang bulat dan k0ntolku yg setengah berdiri itu langsung saja dipegangnya dan segera saja dia berkomentar,
“Maas…, kok masih…, lembek..?”.
“Coba saja di isap…, pasti sebentar saja…, sudah tegang…, mau..?”, tanyaku sambil kupandangi wajahnya dan kulihat Bu Sun hanya mengangguk sedikit tanpa jawaban.

Segera saja kulepas isapan mulutku di payudaranya dan bangun serta duduk di dekat kepalanya sambil sedikit kumiringkan badannya kearahku dan dgn tdk sabaran langsung saja batang k0ntolku yg masih setengah berdiri dipegangnya dan kepalanya di jilat-jilatnya sebentar dan langsung dimasukkan ke dalam mulutnya. Sambil memutar badannya setengah tengkurap, Bu Sun segera saja memaju-mundurkan kepalanya sehingga k0ntolku keluar masuk terasa nikmat sekali sehingga tanpa terasa aku jadi mendesah

“.. Aah…, ooh…, Mbaak…, teruus…, ooh…, enaaknyaa…, Mbaak.. oohh”, sambil kuusap-usap rambut di kepalanya dan sesekali kujambak dan baru sebentar saja Bu Sun menghisap k0ntolku, terasa k0ntolku sudah tegang sekali.

Tiba-tiba saja k0ntolku dikeluarkan dari mulutnya dan langsung saja kukatakan,

“Mbaak…, isap…, lagii.., doong”, tetapi kudengar Bu Sun berkata,
“Maas…, tolong…, punyaa.., Saya.., jg”. Aku langsung mengerti apa yg dimaui Bu Sun dan langsung saja aku merubah posisi dan kujatuhkan diriku tiduran ke dekat kaki Bu Sun dan kutarik celana dalamnya turun serta kulepas dari badannya.

Tiba-tiba saja Bu Sun bergerak dan berganti posisi tidur di atas badanku sehingga memeknya tepat berada di mulutku dan tercium bau memek yg sangat khas, maka tanpa bersusah payah kusibak bulu blu memeknya yg menutupi bibir memeknya dan setelah itu kubuka bibir memeknya dgn kedua jari tanganku dan kujulurkan lidahku menusuk ke dalam memeknya yg sudah basah oleh cairannya dan terasa asin. Ketika ujung lidahku menyodok lubang memeknya, langsung saja Bu Sun menekan pantatnya ke wajahku sehingga terasa sulit bernafas dan terasa k0ntolku sedang di kocok-kocoknya dgn jari tangannya.

Ketika lidahku menjelajahi seluruh bagian memeknya dan bibir memeknya tetap kupegangi, Bu Sun lalu menaik-turunkan pantatnya dgn cepat dan mungkin karena merasa keenakan dijilatin memeknya, terdengar desahannya yg agak keras,

“ooh…, Maas…, oohh…, aahh…, teruus…, uuhh…, Maas…, aduuh…,enaak…, Maas…, ooh…”, dan sesekali clitorisnya yg sedikit menonjol itu dan sudah mulai mengeras, kuhisap-hisap dgn mulutku sehingga desahan demi desahan keluar dari mulutnya,
“ooh…, ituu…, Maas…, enaak…, uuh…, ooh…, Maas”, dan tiba-tiba saja pegangan dik0ntolku dilepaskannya dan Bu Sun menjatuhkan dirinya dari atas tubuhku dan tidur telentang sambil memanggilku,
“Maas…, Maas…, sinii…, Saya sudah…, nggak tahaan…, ayoo…, sini…, Maas”.

Aku segera saja bangun dan membalik badanku serta kunaiki tubuh Bu Sun dan dia ketika tubuhku sudah berada di atasnya, dia membuka kakinya lebar-lebar dan kutempatkan kakiku di antara kedua kakinya. Dgn nafas terengah engah dan mencoba memegang k0ntolku dia berkata,

“Maas…, cepat…, doong…, masukin…, Saya sudah…, nggaak tahaan”.
“Tunggu…, sayaang…, biar Aku saja yg masukin sendiri”, kataku sambil kupindahkan ke atas, tangannya yg tadi mencoba memegang k0ntolku tetapi rupanya Bu Sun sudah tdk sabaran lalu kembali dia berkata.
“Maas…, ayoo…, doong…, cepetaan…, dimasukiin…, punyamu ituu..”, dan dgn hati-tiba kupegang k0ntolku dan kugesek-gesekkan di belahan bibir memeknya beberapa kali dan kemudian kutekan ke dalam serta, “blees…” terasa dgn mudahnya k0ntolku masuk ke dalam lubang memeknya dan seperti terkaget kudengar Bu Sun berteriak kecil bersamaan dgn k0ntolku masuk kelubangnya.

“Aduuh…, Maas”, sambil mendekapku erat-erat.
“Sakit…, sayaang…?”, tanyaku dan Bu Sun kulihat hanya menggelengkan kepalanya sedikit dan ketika dia menciumi disekitar telingaku kudengar dia malah berbisik,
“Enaak…, Maas..”.

Kuciumi wajahnya dan sesekali kuhisap bibirnya sambil kumulai menggerakkan pantatku naik turun pelan-pelan, tetapi tiba-tiba saja punggungku dicengkeramnya agak keras.

“Maas…, coba diamkan dulu pantatmu ituu…”, dan aku tdk mengerti apa maunya tetapi tanpa banyak pertanyaan kuturuti saja permintaannya.

Forum dewasa yg berisikan cerita sex terbaru, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa “Cerita Dewasa Ngesex Calon Besan” dan foto sex bugil tante bispak abg hot terbaru 2017.

Eehh, ternyata Bu Sun sedang mempermainkan otot-otot kenikmatannnya, sehingga pelan-pelan terasa k0ntolku seperti di pijat-pijat serta tersedot-sedot dan jepitan serta sedotannya semakin lama semakin kencang sehingga k0ntolku terasa begitu nikmat dan tanpa terasa aku menjadi terlena keenakan.

“oohh…, sshh…, Mbaak…, enaknyaa…, ooh.., aakkrrss.., ooh…, teruus.., Mbaak…, aduuh.., enaak”, dan aku sudah tdk dapat tinggal diam saja, langsung pantatku naik turun sehingga k0ntolku keluar masuk lubang veginanya serta terdengar bunyi,
“Crroott…, crroot…, croott..”, secara beraturan sesuai dgn gerakan k0ntolku keluar masuk memeknya yg sudah sangat basah dan becek.
“Maas…, cabut dulu punyamu itu…, biar aku lap dulu…, punyaku sebentar..”, kata Bu Sun setelah mungkin mendengar bunyi itu.
“Biar…, aja…, Mbaak…, nikmat begini…, kook”, sahutku sambil meneruskan gerakan k0ntolku naik turun semakin cepat dan

Bu Sun kurasa tdk memperhatikan jawabanku karena sewaktu aku menjawab pertanyaannya, kudengar dia sudah mengeluarkan desahannya.

“ooh…, sshh…, aakk…, aduuh…, Maas…, teruuskaan…, teruus…, Maas…, ooh..”, sambil mempercepat goyangan pinggulnya serta kedua tangannya yg dipunggungku selalu menekan-nekan disertai sesekali menyempitkan lubang memeknya sehingga terasa k0ntolku terjepit-jepit.
“ooh…, Mbaak…, sshh…, oohh…, enaak…, Mbaak…, akuu…, aku sudah…, nggak kuat…, mau…, keluarr.., mbaak..”, desahanku yg sudah tdk kuat lagi menahan keluarnya air maniku.
“Maas…, ayoo…, Maas…, aduuh…, ooh…, Akuu…, jga…, ayoo…, sekaraang…, aakkrr…, ooh…, Maas”, dan kulepas air maniku semuanya ke dalam memeknya sambil kutekan k0ntolku kuat-kuat dan Bu Sun pun mendekapku dgn sekuat tenaganya.

Aku terkapar di atas badan Bu Sun dgn nafas ngos-ngosan demikian jg kudengar bunyi nafasnya yg sangat cepat seraya menciumi wajahku.

Setelah nafas kami mulai mereda, lalu kukatakan,

“Mbaak…, aku cabut ya punyaku..”, dan sebelum aku menghabiskan perkataanku, dicengkeramnya punggungku dgn kedua tangannya seraya mengatakan,
“Jangaan…, duluu…, Maas…, Aku masih ingin…, punyamu tetap ada di dalam..”, dan setelah diam sebentar lalu katanya lagi,

“Maas………, Aku sudah lama…, nggak begini.., Bapak sudah nggak mau lagi.., padahal aku masih kepingin..”.

Setelah kejadian tersebut, kami masih sesekali melakukannya yaitu ketika Bu Sun datang ke Jakarta dgn alasan kangen dgn anak perempuannya yg kawin dgn anakku. Biasanya Bu Sun menelponku di kantor apabila akan datang ke Jakarta dan kujemput dia di Gambir dan langsung pergi ke salah satu Hotel, sebelum dia menuju rumah anaknya…, eh.., anakku jg.

***

Forum dewasa yg berisikan cerita sex terbaru, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa “Cerita Dewasa Ngesex Calon Besan” dan foto sex bugil tante bispak abg hot terbaru 2017.

Cerita Sex: Tante Cantik Supermodel Hot

Forum dewasa yg berisikan cerita sex terbaru, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa “Cerita Sex: Tante Cantik Supermodel Hot” dan foto sex bugil tante bispak abg hot terbaru 2016 –

Cerita Sex: Tante Cantik Supermodel Hot

“de…ngerti mesin mobil ga ? bantu tante dong..”

Cerita sex terbru, Itulah kata kata yg selalu ku ingat selama ini, dan aku selalu berharap kejadian itu berulang terus. Itu semua terjadi lima tahun lalu, ketika umurku masih 23 tahun. Aku bekerja sebagai montir panggilan, ya sampai sekarang pun tetap begitu. Hampir semua mobil bisa kuperbaiki asal ada saja alatnya, terkadang aku jg jadi guru pengganti untuk smk otomotif di kota kembang.

Dgn paras yg tdk terlalu jelek akupun sering berganti ganti pacar, mulai dari berjilbab sampai yg bekerja di bar bar kota bandung pernah kupacari. Jadi, masalah sex aku sudah tak asing lagi. Jangan kau tanya berapa tinggiku, karena aku hanya biasa saja seperti pemuda lain ketika itu hanya sekitar 170cm.

Smua itu berawal ketika aku pulang membetulkan mobil pa zakaria yg tinggal di sebuah komplek ternama di kota bandung, mobil pa zakaria itu rumit sekali untuk dibetulkan sehingga aku membawa semua perkakas di bengkelku. Dgn mobil avanza hitam, ku pacu mobil menuju rumah pa zakaria, meskipun sudah larut malam tetap aku kerjakan mobilnya pa zakaria, maklumlah sama pelanggan lama, kasian jg pa zakaria gapunya motor atau mobil lagi buat ngantor.

Aku berangkat dari rumah jam 7 malam, dan membetulkan mobil sekitar 2 jam itu pun karena sambil diajak ngobrol oleh pa zakaria, seharusnya sih 30 menit jg selesai, tapi ya kunikmati sajalah, sekalian silaturahmi dgn beliau.

Akupun pulang sekitar jam 9.30 malam, komplek pa zakaria tinggal adalah komplek besar, jalan nya saja lebarnya hampir 6 meter se arahnya, dan ditengah tengah jalan ada taman yg membatasi dgn lajur lain, mungkin bisa kalian bayangkan bagaimana besarnya komplek itu. Dgn type culdesac tentu saja taka da jalan lain selain lewat pintu utama untuk pulang.

Komplek itu bukanlah komplek yg sering dilewati oleh masyarakat, komplek itu sepi sekali jika memasuki malam, dan lampu jalanan pun kadang tak dinyalakan karena alasan hemat. Ketika aku melewati jalanan yg agak sepi, aku melihat sebuah mobil yg mengepul asap dari dalam cap mesinnya. Akupun berhenti, tapi bukan karena asap itu aku berhenti, aku berhenti karena melihat wanita di dalam mobil itu.

Aku pun memarkir mobil hitamku agak jauh di depan mobil itu, dan lalu aku turun, ternyata ketika ku membuka pintu, wanita yg ada dalam mobil itu sudah tiba tiba menghampiri aku, dan berkata,

“de…ngerti mesin mobil ga ? tolongin tante dong..” ucap tante itu tanpa basa basi.
“iya tante aku bisa ko, kebetulan aku montir hehe” jawabku dgn gagu.

Tante itu berjalan mendahului ku kearah mesin mobilnya yg mengepul asap, meskipun jalanan itu agak gelap, tetap saja aku bisa melihat pantat besar tante itu yg bergoyang seirama dgn langkahnya, sungguh indah walaupun sedikit tak jelas. Sekilas aku berkhayal meremas pantat besar itu, bahkan aku gigit seperti yg sering ku lakukan pada mantanku yg bahenol si susan. Tapi aku tau dirilah, aku kan berniat menolong saja.

Akupun tak banyak bicara selama memeriksa mesin, dan dalam 20 menit saja aku sudah mengetahui penyebabnya, ketika aku mau bicara pada tante itu ternyata tante itu sudah tertidur di dalam mobil dgn mulut menganga, aku tebak sih dia sudah memakai mobil ini dari luar kota, mungkin dia memang lelah sekali sampai sampai tidur seperti itu, tanpa kusadari aku menikmati melihatnya tertidur, dia tertidur di kursi tengah mobilnya, aku buka pintunya dan lampu dalam mobilpun menyala otomatis, dan aku pun akget bukan kepalang !

Sexy banget nih tante, gilaaaa, bikin ngaceng…mana sudah seminggu aku memang tak onani, biasanya di sepong pacar, tpai kebetulan sekarang aku single, dan pikiran ku pun menjadi nakal.

Tante itu berparas cantik, memakai kacamata, dan berambut panjang, terlihat dari wajahnya kalau dia sering perawatan di kecantikan kulit, bajunya yg modis berwarna biru tosca, dan memakai jeans panjang yg sedikit ketat. Buset..sangatlah masuk dgn seleraku.

Aku pun tak lekas membangunkannya, karena ku pikir, aku akan memanfaatkan situasi ini. Tapi niat buruknya sirna seketika karena tante itu terbangun dan menatap takut padaku.

“ehmm mas aduh maaf saya ketiduran nih…” seru tante sambil mengucek matanya..
“iya tante gapapa ko, saya tau tante dari luar kota, iya kan ?” tanyaku sambil salah tingkah takut dia tau maksudku
“iya betul tante baru pulang dari Surabaya.” Jawabnya sambil minum air mineral.
“jadi gini tante, mobil ini cuman kepanasan saja, kurang air di radiatornya..tinggal tambah air saja ini sudah bisa nyala lagi, mungkin tante terlalu lama makenya, ga istirahat ya ?” aku mencoba akrab
“ya gitu deh mas, pengen cepet sampe bandung sih, yaudah deh mas benerin aja mobilnya, saya pengen tau beres, berapapun saya bayar mas, asal harganya masuk akal saja hehhehe” dia bilang sambil memainkan handphonenya.
“oke tante..siap” aku sambil berlalu..

Dari caranya berkata aku tau dia itu memang biasa memerintah, mungkin dia bos suatu toko atau usaha sesuatu, ya ga aku pikiran deh yg kaya gituan, yg penting aku harus cepat membetulkan mobil itu.

Dan selesailah membetulkan mobil itu, aku segera laporan ke si tante cantik.

“tante sudah selesai mobilnya..”
“oh bagus bagus, tapi ngomong ngomong nama km siapa ?” tanyanya dgn halus.
“nama saya Kuriniawan tante, tapi panggil aja Iwan hehe” jawabku dgn malu.
“oh Iwan , Iwan udah punya cowo belum ?” tanyanya dgn nada nakal
“lah ko cowo sih tan haha, aku normal ko suka sama cewe..” jawabku dgn tertawa, tante ini bisa melucu jg ternyata..
“haha ya aku becanda Wan, oh kamu normal ya ? kalau normal tante mau nanya dong..” bertanya dgn wajah seperti menyembunyikan sesuatu.
“apa tante ?” tanyaku heran
“kamu tertarik ga sama tante ?” dgn lancar si tante berkata…
“hmm gimana ya tan, bingung jawabnya hehe” aku kaget dikasih pertanyaan seperti itu, memang sih aku tergoda, hanya saja tdk etis jika langsung aku katakan seperti itu.
“ayo mengaku saja…tante lihat ko dari tadi kamu beneri mobil sambil bener benerin celana, bangun ya tuh penisnya..haha” ucap tante tanpa dosa..

Buset entah bagaimana perasaanku saat itu, udara dingin ditambah percakapan yg tiba tiba menjadi aneh, dan ternyata tante ini memerhatikanku dari tadi, aku memang membetulkan celana karena melihat badan sexynya ketika tertidur tadi.

“aduh ketawan deh hehe” sebisaku menjawab sambil bingung akan situasi.
“nahloh Wan, ko bisa sih tiba tiba bangun penisnya..liat apa emang ?” dgn memasang wajah curiga.
“ngga ko tante, ga liat apa apa..”
“jujur saja Wan sama tante..km liat apa sampe ngaceng gitu..”

Ingin sekali aku blak blakan dan bilang ngaceng liat tante, tapi seakan lidahku menjadi kaku dan tak bisa mengucap kata kata itu, di dalam diamku menjawab pertanyaan itu, tiba tiba tangan tante itu memegang penis…ah, rasa linunya benar benar aku rindukan, karena sudah lama penisku tak dipegang wanita.

“aduh tante mau ngapain..”
“udah cepet naik sini ke mobil, nanti ada yg lihat Wan..cepet..”

Akupun segera naik mobil, aku duduk disebelah tante sexy itu. Tangan tante itu terus meremas penisku dari luar, aku bingung harus berprilaku seperti apa. Aku hanya diam saja menerima tindakan itu dan menikmati remasan tangan tante itu.

Tante pun menuntun tanganku ke arah toketnya, akupun tak bodoh, aku langsung remas jg toketnya.

“nah gitu dong Wan…ahhh geli Wan..remas terus Wan…keras jg gapapa…tante suka..” seraya melihat nakal kepadaku.

Kami terus melakukan remas meremas di dalam keheningan dan kegelapan mobil, sesekali aku mencium dan menjilat pipi tante yg menggemaskan lidah. Dan tante pun sekarang sudah membuka sabuk dan seleting ku.

“Wan..pernah ngentot kan sebelumnya ?” tanya tante sambil memainkan penisku
“pernah tante, kenapa emang..” jawabku sambil terus meremas toketnya..
“ko nanya sih Wan, entot tante dong sampe klimaks..tante rindu penis muda..” jawab tante sembari memposisikan badannya kearahku.

Diapun menghentikan tanganku yg sedang meremas toketnya, dan langsung mengulum penisku yg sudah tegak sejak membetulkan mobil tadi.

Blesssss,,penisku dikulum tante itu, rasa sensasi sepong menghinggapi sanubariku…rasa basah dan dingin air liur cepat aku nikmati, aku memegang rambut tante itu yg panjang, dan aku mengomandokan agar dia menyepong penis dgn cepat, aku jenggut rambutnya. Memaju mundurkan kepalanya sesuai ritme yg aku inginkan.

Sekitar 5 menit tante itu menyepong penisku, lalu dia menghentikan aktifitas itu dan langsung menyandarkan tubuhnya yg sexy agak montok ke pintu dan membuka selangkangannya ke arahku.

“Wan, sekarang kamu dong yg oral.” Sambil dia berusaha membuka celana jeans ketatnya di tengah mobil avanza hitam yg terasa sempit jika dipakai hubungan sex seperti ini.

Dia melemparkan celana jinsnya kebelakang, dan semerbak harum vagina pun memenuhi mobil. Tanpa banyak bertanya aku langsung saja mengelus vagina tante itu, dia kaget dgn elusan ku yg tanpa peringatan, dan dia tersenyum sambil menikmati.

Seperti tak mau ketinggalan kereta, aku langsung memposisikan badan menjilati vaginanya. Aku menjilat vagina seperti menjilat eskrim, hingga si tante tak kuat dgn jilatanku memukul mukul kepalaku minta aku berenti tapi tak kuturuti keinginannya, terus ku jilat sampai dia orgasme oleh lidahku.

Cairan itu terkena muka ku dan sedikit mengucur ke jok. Muka tante itu aku tebak sedang memejamkan mata menikmati orgasme pertamanya, nafasnya terengah engah layaknya sudah lari sprint 100m. tante itu mengisyaratkan agar aku mengentotnya segera dgn menarik penis tegangku kearah vaginanya.

Aku pun tak banyak lama, langsung ku serbu dengna penis panjang besar ku. Blesss….penisku pun masuk sarangnya. Sensasi vagina yg hangat sangat aku nikmati ditengah udara malam di bandung yg dingin seperti malam itu.

Tante itu tak banyak bicara selama aku mengentotnya, dia terus saja merem melek menikmati entotan ku.
Tiba tiba, suara telp memecahkan kesunyian itu. Dgn ringtone buka dikit joss.

“buka dikit josss”
“Stop dulu Wan, ada telp…”
“ya halo….apa nak ?”
“iya mama bentar lagi plg ko, ini udah di bandung..”

Aku tetap mengentotnya meski dia memintaku stop, bahkan aku menambah intensitas masuk keluarnya penis ku. Membuatnya tak bisa menahan desahan.

“eehhh aahhh~ ” mencubit perutku dgn tangah kirinya..
“gapapa nak, mamahhh~ lagi makan aja nih, pedes aaahh~ basonya..” sambil merem melek kaya sebelumnya..
Lalu diapun menutup telephone.
“Wan..beresin sekarang cpt, aku mau plg ya sayang yaa..” kata si tante sambil menyimpan ho nya ke tas.

Aku terus menggenjot vaginanya seperti tdk ada hari esok. Tangan kiri tante meremas jok dgn keras, tangan kanannya memegang gagang pintu diatas kepalanya.

Tak lama aku pun tak kuat menahan spermaku, langsung aku semburkan di dalam tanpa tanya dulu.

Muka tante itupun seperti kaget tapi sambil menikmati hangatnya spermaku didalam vaginanya.

“kamu buang di dalem Wan ?? aku masih subur loh..kalau aku hamil gimana…” mengambil tisu dan membersihkan vaginanya.
“maaf tante, ga kuat soalnya.”
“yaudah gapapa, benerin tuh celananya, kalau engga aku gigit loh.” Sambil dia mengambil celana jeans nya dibelakang.
“gigit aja nih…” aku arahkan penis ke mulutnya…

Dan slupppppp~, dia mengenyot penisku yg tadinya sudah mulai melemas…dia menjilati penisku seperti lollipop.

“nah kan udah bersih tuh…” sambil dia tersenyum.

Setelah selesai akupun plg, dia memintaku pergi duluan.

Aku menjadi ketagihan wanita yg berumur seperti dia semenjak kejadian itu, dan akupun mulai mencari petualangan yg aku sengaja buat, tdk kebetulan seperti dgn tante yg aku tak tahu namanya sampai sekarang. Aku masih selalu ingat bagaimana rasa legitnya vagina tante itu dan sedotan mulutnya yg luar biasa.

***

Cerita sex, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa “Cerita Sex: Tante Cantik Supermodel Hot” dan foto sex bugil tante bispak abg hot terbaru 2016

Kamis, 29 September 2016

Cerita Dewasa: Ngentot Sama Mas Bram Teman Saumiku

Forum dewasa yg berisikan cerita sex terbaru, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa “Cerita Dewasa: Ngentot Sama Mas Bram Teman Saumiku” dan foto sex bugil tante bispak abg hot terbaru 2016 – Mira 30 tahun, tinggi 168cm, berat badan 60kg, tubuh putih kecoklatan, payudara 34B, body aduhai, adalah perawakanku. Aku sudah menikah selama kurang lebih 3 tahun, tp aku belum juga dikaruniai seorang buah hati. Suamiku bernama mas Husein dia berumur 34 tahun, hubungan keluarga kami bisa dibilang harmonis Karena tak banyak masalah yg terjadi dikeluargaku. Hanya ada satu masalah dlm keluargaku yg sejak dari dulu aku pendam yaitu ku tdk pernah mendapatkan kepuasan dlm berhubungan Sex dgn suamiku.

Cerita Dewasa: Ngentot Sama Mas Bram Teman Saumiku
Cerita sex terbaru, Suamiku selalu saja tdk bisa dlm behubugan Sex, baru sebentar saja sudah keluar lalu loyo, aku hampir tdk mendaptkan klimaks dlm hubungan Sex dgn suamiku, Tp aku hanya memendamnya saja dlm hati. Sampai akhirnya datang seorang sosok mas Bram yg terlihat sangan jantan, denga tinggi besarnya, ada brewok dilehernya, dan Nampak juga bulu dada nya mas Bram yg membuat mas Bram ini terlihat sangat jantan sekali.

Mas Bram adalah teman sekantor dari suamiku, mas Bram dan suamiku sudah sahabatan sejak mereka kuliah sampai sekarang bekerja. Dlm keseharian mas Bram juga sering bermain bulu tangkis bersama setiap malam maupun disela-sela istirahat kantor mereka. Semua ini aku ketahui karena suamiku yg cerita, gak jarang juga mas Bram datang kerumah unuk ngajak mas husein bermain bulu tangkis atau hanya sekedar maen saja. Aku tak pernah menygka semua ini akan terjadi.

Cerita mesum terbaru, Akhir-akhir ini tatapan wajah mas Bram padaku agak berbeda, mas Bram menatapku dgn tatapan yg tajam. Sampai suatu saat aku mencuri-curi waktu saat suamiku sedang keluar mencari rokok, aku menanyai mas Bram tentang tatapan nya kepadaku itu. Dan dgn kaget aku mendengar jawaban dari mas Bram, dia menjawab kalau dia naksir sama aku, sekejap itu juga hatiku langsung berdetak tak karuan.

Mas Bram Teman Suamiku yg Perkasa – Sejak jawaban dari mas Hery itu, setiap hari aku menjadi kepikiran terus. Kenapa hasrat Sex ku dgn mas Bram mengalir sama kedlm pikiran mas Bram, sampai mas Bram berani mengakatakan naksir sama aku, padahal dia teman baik suamiku. Sungguh jawaban mas Bram itu sangat menggangu pikiranku, yg setelah aku mengetahui kalau mas Bram naksir sama aku, aku pun terus berhasrat ingin sekali bercumbu denganya, tp aku masih menahan keinginanku ini, karena aku masih menghargai suamiku. S

ampailah pada saat yg aku nanti-nantikan, secelah kesempatan datang. Waktu itu suamiku sedang ditugaskan oleh kantor dan harus menginap selama seminggu. Mas Bram yg tau kalau suamiku sedang ditugaskan oleh kantor itu pun langsung mendatangiku kerumah. Dan kembali mas mas Bram membahas tentang jawabannya saat itu yg belum aku jawab. Akhirnya terjadilah obrolan panjang antara aku dan mas Bram waktu itu yg akhirnya kita memutuskan untuk saling suka tp tanpa sepengetahuan suamiku. kejantanan mas Bram menyatakan perasaanya padaku ini yg membuat hatiku sekejap luluh dan menerimanya.

Mas Bram Teman Suamiku yg Perkasa – Hari itu adalah jadwal suamiku maen bulu tangkis, seperti biasa mas Bram datang kerumahku menghampiri suamiku untuk mengajaknya bermain, tp semua itu adalah alibi dari mas Bram, karena mas Bram sudah tau kalau suamiku sedang ridak di rumah. Mas Bram pun mengajakku untuk menggantikan suamiku untuk bermain bulu tangkis yg ada dibelakang rumahku. Dan aku pun bergegas ganti baju dgn hanya menggunakan tengtop setrit dan celana hot pans saja. Terlihat jelas lekuk tubuhku yg sangat seksi ini, yg aku pikirkan pasti akan membuat gairah mas Bram. Dan kitapun akhirnya bermain bulu tangkis.

Saat aku sedang hot-hotnya aku mengejar “kok” tanpa kuduga aku jatuh terkilir, Bram menghampiriku lalu mengajakku pulang. Setiba di rumah, kuajak Bram untuk mampir dan ia menerimanya dgn senang hati. Bram memapahku sampai ke kamar, lalu membantuku duduk di ranjang. Dgn manja kuminta ia mengambilkan aku minuman di dapur, Bram mengambilkan minuman dan kembali ke kamar mendapatkan aku telah melepas sweater dan sedang memijat betisku sendiri. Ia agak tersentak melihatku, karena aku telah menanggalkan sweaterku sekarang tinggal memakai blous “you can see” longgar yg membuat ketiak dan buah dadaku yg putih mulus itu mengintip nakal, posisi kakiku juga menarik rokmini olahragaku hingga pahaku yg juga putih mulus itu terbuka untuk menggoda matanya.

Tampak sekali ia menahan diri dan mengalihkan pandangan saat memberikan minuman kepadaku. Memang “gentleman” pria ini. penampilannya agak kaku tetapi disertai sikap yg lembut, kombinasi yg tak kudapatkan dari suamiku, ditambah berbagai macam kecocokan di antara kami. Mungkin inilah yg mendorongku untuk melakukan sesuatu hal yg seharusnya tdk dilakukan oleh seorang wanita yg sudah bersuami. Aku menggeser posisiku mendekatinya, lalu kucium pipinya sebagai ucapan terimakasihku. Bram terkejut, namun tak berusaha menghindar bahkan ia menggerakan wajahnya sehingga bibirku beradu dgn bibirnya. Kewanitaanku bangkit walaupun aku tahu ini adalah salah tetapi tanpa kusadari ia mencium bibirku beberapa saat sebelum akhirnya aku merespon dgn hisapan lembut pada bibir bawahnya yg basah.

Kami saling menghisap bibir beberapa saat sampai akhirnya aku yg lebih dulu melepas ciuman hangat kami. “Her..” kataku ragu. Kami saling menatap beberapa saat. Komunikasi tanpa kata-kata akhirnya memberi jawaban dan keputusan yg sama dlm hati kami, lalu hampir berbarengan, wajah kami sama-sama maju dan kembali saling berciuman dgn mesra dan hangat, saling menghisap bibir, lalu lama kelamaan, entah siapa yg memulai, aku dan Bram saling menghisap lidah dan ciuman pun semakin bertambah panas dan bergairah.

Cerita Sex Sahabat Suamiku Jadi Pemuasku – Ciuman dan hisapan berlanjut terus, sementara tangan Bram mulai beralih dari betisku, merayap ke pahaku dan membelainya dgn lembut. Darahku semakin berdesir. Mataku terpejam. Entah bagaimana pria bukan suamiku ini bisa menyentuh ragaku selembut ini, semakin kupejamkan mataku semakin melayg perasaanku, dan menikmati kelembutan yg memancing gairah ini. Kembali Bram yg melepas bibirnya dari bibirku. Namun kali ini, dgn lembut namun tegas, ia mendorong tubuhku sambil satu tangannya masih terus membelai pahaku, membuat kedua tanganku yg menahanku pada posisi duduk tak kuasa melawan dan akupun terbaring pasrah menikmati belaiannya, sementara ia sendiri membaringkan tubuhnya miring disisihku.

Cerita Sex Sahabat Suamiku Jadi Pemuasku – Bram mengambil inisiatif mencium bibirku kembali, yg serta merta kubalas dgn hisapan pada lidahnya. Mungkin saat itu gairahku semakin menggelegak akibat tangannya yg mulai beralih dari pahaku ke selangkanganku, membelai barang milikku yg paling sensitif yg masih terbalut celana dlm itu dgn lembut namun pasti.

“Mmmmmpppphhh.. Bram..sudah terlalu jauh Her..” desahku di sela-sela ciuman panas kami.

Aku agak lega saat tangan kekarnya meninggalkan selangkanganku, namun ia mulai menarik blousku hingga terlepas dari jepitan rokku, lalu ia loloskan dari kepalaku. Buah dadaku yg montok dan puting susuku membayang menggoda dari Bra ku yg tipis dan seksi, membuatnya semakin penasaran. Ia kembali mencium bibirku, namun kali ini lidahnya mulai berpindah-pindah ke telinga dan leherku, untuk kembali lagi ke bibir dan lidahku.

Permainannya yg lembut dan tak tergesa-gesa ini membuatku terpancing menjadi semakin bergairah, sampai akhirnya ia mulai memainkan tangannya meraba-raba dadaku dan sesekali menyelipkan jarinya ke balik Bra menggesek-gesek putingku yg saat itu sudah tegak mengacung. Tanpa kusadari aku mulai memainkan kaos bajunya, dan setelah bajunya kusingkap terlihat tampilan otot di tubuhnya. Aku melihat dada bidang dan kekar, serta perut sixpacknya di depan mataku. Tak lama ia pun memutuskan untuk mengalihkan godaan bibirnya ke buah dadaku yg masih terbalut Bra ku.

Diciumi buah dadaku sementara tangannya merogoh ke balik punggungku untuk melepas kait Bra ku. Sama sekali tdk ada protes dariku iapun melempar Bra ku ke lantai sambil tdk buang waktu lagi mulai menjilati putingku yg memang sudah menginginkan ini dari tadi.

“Ooohh.. mmmmppphhhh.. aachh.. Bram..” desahku langsung terlontar tak tertahankan begitu lidahnya yg basah dan kasar menggesek putingku yg terasa sangat peka.

Bram menjilati dan menghisap dada dan putingku di sela-sela desah dan rintihku yg sangat menikmati gelombang rangsangan demi rangsangan yg semakin lama semakin menggelora ini,

“..Oooh Bram suuddhaah.. Herr.. stoop..!!” tetapi Bram terus saja merangsangku bahkan tangannya mulai melepas celananya, sehingga kini ia benar-benar telanjang bulat.

K0ntolnya yg besar dan berotot mengacung tegang, karuan aku terbelalak melihatnya, besar dan perkasa lebih perkasa dari k0ntol suamiku, Meqiku tiba tiba berdenyut tak karuan. Oh..tak kupikirkan akibat dari keisenganku tadi yg hanya ingin mencium pipinya saja sekarang sudah berlanjut sedemikian jauh.

Bram melepas putingku lalu bangkit berlutut mengangkangi betisku. Ia menarik rokku dan membungkukkan badannya menciumi pahaku. Kembali bibirnya yg basah dan lidahnya yg kasar menghantarkan rangsangan hebat yg merebak ke seluruh tubuhku pada setiap sentuhannya di pahaku. Apalagi ketika lidahnya menggoda selangkanganku dgn jilatannya yg sesekali melibas pinggiran Cealana Dlmku, semili lagi menyentuh bibir Meqiku. Yg bisa kulakukan hanya mendesah dan merintih pasrah melawan gejolak birahi, rasa penasaranku menginginkan lebih dari itu tp akal sehatku masih menyatakan bahwa ini perbuatan yg salah.

Akhirnya, dgn menyibakkan celana dlmku, Bram mengalihkan jilatannya kerambut kemaluanku yg telah begitu basah penuh lendir birahi.

“ggaahh.. Heeruu..stoop..ohh..” bagaikan terkena setrum rintihanku langsung menyertai ledakan kenikmatan yg kurasakan saat lidah Bram melalap Meqiku dari bawah sampai ke atas, menyentuh klitorisku.

Kini kami sama-sama telanjang bulat. Tubuh kekar berotot Bram berlutut di depanku. Lobang Meqiku terasa panas, basah dan berdenyut-denyut melihat batang k0ntolnya yg tegang besar kekar berotot berbeda dgn punya suamiku yg lebih kecil. Oohh..betul betul luar biasa napsu birahiku makin mengebu gebu. Entah mengapa aku begitu terangsang melihat batang kemaluan yg bukan punya suamiku. Oooh begitu besar dan perkasa, pikiranku bimbang karena aku tahu sebentar lagi aku akan disetubuhi oleh sahabat suamiku, anehnya gelora napsu birahiku terus mengelegak.

Kupasrahkan diriku ketika Bram membuka kakiku hingga mengangkang lebar lebar, lalu Bram menurunkan pantatnya dan menuntun k0ntolnya ke bibir Meqiku. Kerongkonganku tercekat saat kepala k0ntol Bram menembus Meqiku.

”Hngk! Besaar..sekalii..Heer..” Walau telah basah berlendir, tak urung k0ntolnya yg demikian besar kekar berotot begitu seret memasuki liang Meqiku yg belum pernah merasakan sebesar ini, membuatku menggigit bibir menahan kenikmatan hebat bercampur sedikit rasa sakit.

Tanpa terburu-buru, Bram kembali menjilati dan menghisap putingku yg masih mengacung dgn lembut, kadang menggodaku dgn menggesekkan giginya pada putingku, tak sampai menggigitnya, lalu kembali menjilati dan menghisap putingku, membuatku tersihir oleh kenikmatan tiada tara, sementara setengah k0ntolnya bergerak perlahan dan lembut menembus Meqiku. Ia menggerak-gerakkan pantatnya maju mundur dgn perlahan, memancing gairahku semakin bergelora dan lendir birahi semakin banyak meleleh di Meqiku, melicinkan jalan masuk k0ntol berotot ini ke dlm liang kenikmatanku tahap demi tahap.

Lidahnya yg kasar dan basah berpindah-pindah dari satu puting ke puting yg lain, membuat kepalaku terasa semakin melayg didera kenikmatan yg semakin bergairah. Akhirnya napsu birahikulah yg menang laki laki perkasa ini benar benar telah menyeretku kepusaran kenikmatan menghisap seluruh pikiran jernihku dan yg timbul adalah rangsangan dahsyat yg membuatku ingin mengarungi permainan seks dgn sahabat suamiku ini lebih dlm.

“Ouuch.. sshh.. aachh.. teruuss.. heeruu.. masukin k0ntolmu yg dalaam..!! oouch.. niikmaat.. heerr..!! Baru kali ini lobang Meqiku merasakan ukuran dan bentuk k0ntol yg bukan milik suamiku, yg sama sekali baru ..besaar dan perkasaa.., aku merasakan suatu rangsangan yg hebat didlm diriku.

Seluruh rongga Meqiku terasa penuuh, kurasakan begitu nikmatnya dinding Meqiku digesek batang k0ntolnya yg keras dan besaar..!

Cerita Sex Sahabat Suamiku Jadi Pemuasku – Akhirnya seluruh batang kemaluannya yg kekar besar itu tertelan kedlm lorong kenikmatanku, memberiku kenikmatan hebat, seakan bibir Meqiku dipaksa meregang, mencengkeram otot besar dan keras ini. Melepas putingku, Bram mulai memaju-mundurkan pantatnya perlahan,

“..oouch.. niikmaat.. heeruu..!!” aku pun tak kuasa lagi untuk tdk merespon kenikmatan ini dgn membalas menggerakan pantatku maju-mundur dan kadang berputar menyelaraskan gerakan pantatnya, dan akhirnya napasku semakin tersengal-sengal diselingi desah desah penuh kenikmatan.
“Aaaarrggghh.. sshh.. hh.. Heerruu.. oohh ..suungguuhh.. niikmmaat sahygghh..” Bram membalas dgn pertanyaan “Ohh.. Miray nikmatan mana dgn k0ntol suamimu..?” otakku benar benar terhipnotis oleh kenikmatan yg luar biasa..! jawabanku benar benar diluar kesadaranku
“Ohh ssh Bram. k0ntolmu besaar sekalii..! jauh lebih nikmaat ..!! Bram makin gencar melontarkan pertanyaan aneh aneh, “..hh..Mira lagi diapain meqimu sama kontolnya Bram..?” aku bingung menjawabnya,
“Bilang lagi dientot..!” Bram memaksaku untuk mengulangnya, tp dasar aku lagi terombang ambing oleh buaian birahi akupun tdk malu malu lagi mengulangnya
“hh.. hh.. sshh.. mmmmmppphhhhh..lagi dientot sayaang..”

Terus menerus kami saling memberi kenikmatan, sementara lidah Bram kembali menari di putingku yg memang gatal memohon jilatan lidah kasarnya. Aku benar benar menikmati permainannya sambil meremas-remas rambutnya. Rasa kesemutan berdesir dan setruman nikmat makin menjadi jadi merebak berpusat dari Meqi dan putingku, keseluruh tubuhku hingga ujung jariku. Kenikmatan menggelegak ini merayap begitu dahsyat sehingga terasa seakan tubuhku melayg. K0ntolnya yg dahsyat semakin cepat dan kasar menggenjot Meqiku dan menggesek-gesek dinding Meqiku yg mencengkeram erat.

Hisapan dan jilatannya pada putingku pun semakin cepat dan bernapsu. Aku begitu menikmatinya sampai akhirnya seluruh tubuhku terasa penuh setruman birahi yg intensitasnya terus bertambah seakan tanpa henti hingga akhirnya seluruh tubuhku bergelinjang liar tanpa bisa kukendalikan saat kenikmatan gairah ini meledak dlm seluruh tubuhku. Desahanku sudah berganti dgn erangan erangan liar kata kataku semakin vulgar.

“Ahh.. Ougggggghh.. entootin terus sayaang.. genjoott.. habis meqiku..!! genjoott.. kontolmu sampe mentok..!!” Ooohh.. Herruu.. bukan maiin.. eennaaknyaa.. ngeentoot dgnmu..!!” mendengar celotehanku, Bram yg kalem berubah menjadi semakin beringas seperti banteng ketaton dan yg membuat aku benar benar takluk adalah staminanya yg bukan maiin perkasaa.., tdk pernah kudapatkan seperti ini dari suamiku.

Aku benar benar sudah lupa siapa diriku yg sudah bersuami ini, yg aku rasakan sekarang adalah perasaan yg melambung tinggi sekali yg ingin kunikmati sepuas puasnya yg belum pernah kurasakan dgn suamiku. Bram mengombang ambingkan diriku di lautan kenikmatan yg maha luas, seakan akan tiada tepinya. Akhirnya aku tdk bisa lagi menahan gelombang kenikmatan melanda seluruh tubuhku yg begitu dahsyatnya menggulung diriku

“Ngghh.. nghh .. nghh.. Bram.. Akku mau keluaar..!!” pekikanku meledak menyertai gelinjang liar tubuhku sambil memeluk erat tubuhnya mencoba menahan kenikmatan dlm tubuhku, Bram mengendalikan gerakannya yg tadinya cepat dan kasar itu menjadi perlahan sambil menekan batang kemaluannya dlm dlm dgn memutar mutar keras sekalii.. Clitorisku yg sudah begitu mengeras habis digencetnya.

“..aacchh.. Bram.. niikmaat.. tekeen.. teruuss.. itilkuu..!!”

Cerita Sex Sahabat Suamiku Jadi Pemuasku – Ledakan kenikmatan orgasmeku terasa seperti ‘forever’ menyemburkan lendir orgasme dlm Meqiku, kupeluk tubuh Bram erat sekali wajahnya kuciumi sambil mengerang mengerang dikupingnya sementara Bram terus menggerakkan sambil menekan k0ntolnya secara sangat perlahan, di mana setiap mili k0ntolnya menggesek dinding Meqiku menghasilkan suatu kenikmatan yg luar biasa yg kurasakan dlm tubuhku yg tdk bisa kulontarkan dgn kata kata.

Beberapa detik kenikmatan yg terasa seperti ‘forever’ itu akhirnya berakhir dgn tubuhku yg terkulai lemas dgn k0ntol Bram masih di dlm Meqiku yg masih berdenyut-denyut di luar kendaliku. Tanpa tergesa-gesa, Bram mengecup bibir, pipi dan leherku dgn lembut dan mesra, sementara kedua lengan kekarnya memeluk tubuh lemasku dgn erat, membuatku benar-benar merasa aman, terlindung dan merasa sangat disayangi. Ia sama sekali tdk menggerakkan k0ntolnya yg masih besar dan keras di dlm Meqiku. Ia memberiku kesempatan untuk mengatur napasku yg terengah-engah.

Setelah aku kembali “sadar” dari ledakan kenikmatan klimaks yg memabukkan tadi, aku pun mulai membalas ciumannya, memancing Bram untuk kembali memainkan lidahnya pada lidahku dan menghisap bibir dan lidahku semakin liar. Sekarang aku tdk canggung lagi bersetubuh dgn teman suamiku ini. Gairahku yg sempat menurun tampak semakin terpancing dan aku mulai kembali menggerak-gerakkan pantatku perlahan-lahan, menggesekkan k0ntolnya pada dinding Meqiku. Respon gerakan pantatku membuatnya semakin liar dan aku semakin berani melayani gairahnya yg memang tampaknya makin liar saja.

Genjotan k0ntolnya pada Meqiku mulai cepat, kasar dan liar. Aku benar-benar tdk menygka bisa terangsang lagi, biasanya setelah bersetubuh dgn suamiku setelah klimax rasanya malas sekali untuk bercumbu lagi tp kali ini Bram memberiku pengalaman baru walau sudah mengalami klimax yg maha dahsyat tadi tp aku bisa menikmati rangsangannya lagi oleh genjotan k0ntolnya yg semakin bernapsu, semakin cepat, semakin kasar, hingga akhirnya ledakan lendir birahiku menetes lagi bertubi-tubi dari dlm Meqiku.

Lalu Bram memintaku untuk berbalik, ooh ini gaya yg paling kusenangi “doggy style” dgn gaya nungging aku bisa merasakan seluruh alur alur batang kemaluan suamiku dan sekarang aku akan merasakan batang yg lebih besar lebih perkasa oohh..! dgn cepat aku berbalik sambil merangkak dan menungging kubuka kakiku lebar, kutatap mukanya sayu sambil memelas

“..Yeess….masukin kontol gedemu dari belakang kelobang meqiku..” Bram pun menatap liar dan yg ditatap adalah bokongku yg sungguh seksi dimatanya, bongkahan pantatku yg bulat keras membelah ditengah dimana bibir Meqiku sudah begitu merekah basah dibagian labia dlmku memerah mengkilat berlumuran lendir birahiku mengintip liang kenikmatanku yg sudah tdk sabar ingin melahap batang kemaluannya yg sungguh luar biasa itu.

Sambil memegang batang k0ntolnya disodokannya ketempat yg dituju

“Bleeeess..” ..Ooohh.. Bram.. teruss.. Haaannnsss.. yg.. dalaam..!! mataku mendelik merasakan betapa besaar dan panjaang batang k0ntolnya menyodok liang kenikmatanku, urat urat kemaluannya terasa sekali menggesek rongga Meqiku yg menyempit karena tertekuk tubuhku yg sedang menungging ini.

Hambatan yg selalu kuhadapi dgn suamiku didlm gaya ‘doggy style’ ini adalah pada waktu aku masih dlm tahap ‘menanjak’ suamiku sudah terlalu cepat keluar, suamiku hanya bisa bertahan kurang dari dua menit.

Tetapi Bram sudah lebih dari 10 menit menggarapku dgn gaya ‘doggy style’ ini tanpa ada tanda tanda mengendur. Oh bukan maiin..! bagai kesurupan aku menggeleng gelengkan kepalaku, aku benar benar dlmkeadaan ekstasi, eranganku sudah berubah menjadi pekikan pekikan kenikmatan, tubuhku kuayun ayunkan maju mundur, ketika kebelakang kusentakan keras sekali menyambut sodokannya sehingga batang k0ntol yg besaar dan panjaang itu lenyap tertelan oleh kerakusan lobang Meqiku. kenikmatanku bukan lagi pada tahap “menanjak” tp sudah berada di awang-awang di puncak gunung kenikmatan yg tertinggi.

“Nngk.. ngghh..Bram..akuu mau keluaar lagii.. aargghh..!!” aku melenguh panjang menyertai klimaksku yg kedua yg kubuat semakin nikmat dgn mendorong pantatku ke belakang keras sekali menancapkan k0ntolnya yg besar sedlm-dlmnya di dlm Meqiku, sambil kukempot kempotkan Meqiku serasa ingin memeras batang kemaluannya untuk mendapatkan seluruh kenikmatan semaksimum mungkin.

Setelah mengejang beberapa detik diterjang gelombang kenikmatan, tubuhku melemas dipelukan Bram yg menindih tubuhku dari belakang. Berat memang tubuhnya, namun Bram menyadari itu dan segera menggulingkan dirinya, rebah di sisiku. Tubuhku yg telanjang bulat bermandikan keringat terbaring pasrah di ranjang, penuh dgn rasa kepuasan yg maha nikmat yg belum pernah aku rasakan sebelumnya dgn suamiku.

Bram memeluk tubuhku dan mengecup pipiku, membuatku merasa semakin nyaman dan puas.

“Mira aku belum keluar sayang..! tolongin aku isepin kontolku sayaang..!” Aku benar benar terkejut aku sudah dua kali klimaks tp Bram belum juga keluar, bukan main perkasanya. biasanya malah suamiku lebih dulu dari aku klimaksnya kadang kadang aku malah tdk bisa klimaks dgn suamiku karena suamiku suka terburu buru.

Merasa aku telah diberi kepuasan yg luar biasa darinya maka tanpa sungkan lagi kuselomot batang kemaluannya kujilat jilat buah zakarnya bahkan selangkangannya ketika kulihat Bram menggeliat geliat kenikmatan,

“..Ohh yess Hes.. nikmat sekalii.. teruss hes.. lumat kontolku iseep yg daleemm.. ohh.. heestyy.. saayaangg..!!” Bram mengerang penuh semangat membuatku semakin gairah saja menyelomot batang kemaluannya yg besar, untuk makin merangsang dirinya aku merangkak dihadapannya tanpa melepaskan batang kemaluannya dari mulutku, kutunggingkan pantatku kuputar putar sambil kuhentak hentakan kebelakang, benar saja melihat gerakan erotisku Bram makin mendengus dengus bagai kuda jantan liar, dan tdk kuperkirakan yg tadinya aku hanya ingin merangsang Bram untuk bisa cepat ejakulasinya malah aku merasakan birahiku bangkit lagi Meqiku terasa berdenyut denyut clitorisku mengeras lagi.

Ohh.. beginikah multiple orgasme yg banyak dibicarakan teman temanku? Selomotanku makin beringas, batang yg besar itu yg menyumpal mulutku tak kupedulikan lagi kepalaku naik turun cepat sekali, Bram menggelinjang hebat, akhirnya kurasakan Meqiku ingin melahap kembali batang kemaluannya yg masih perkasa ini, dgn cepat aku lepas k0ntolnya dari mulutku langsung aku merangkak ke atas tubuhnya kuraih batang kemaluannya lalu kududuki sembari ku tuju ke Meqiku yg masih lapar itu. Bleess.. aachh..aku merasakan bintang bintang di langit kembali bermunculan.

“..Ooohh..Mira..kau sungguuh seksiiiii..sekaliiii….masuukin kontolku..!!” Bram memujiku setinggi langit melihat begitu antutiasnya aku meladeninya bahkan bisa kukatakan baru pertama kali inilah aku begitu antusias, begitu beringas bagai kuda betina liar melayani kuda jantan yg sangat perkasa ini.
“..Yess.. Bram.. yeess.. kumasukkan kontolmu yg perkasa ini..!” kuputar-putar pinggulku dgn cepatnya sekali kali kuangkat pantatku lalu kujatuhkan dgn derass sehingga batang k0ntol yg besar itu melesak dalaam sekali..

“..aachh.. Mirrrraaaaa.. putaar.. habiisiin kontoolku.. eennakk.. sekaallii..!!” giliran Bram merintih mengerang bahkan mengejang-ngejangkan tubuhnya, tdk bisa kulukiskan betapa nikmatnya perasaanku, tubuhku terasa seringan kapas jiwaku serasa diombang ambing di dlm lautan kenikmatan yg maha luas kucurahkan seluruh tenagaku dgn memutar menggenjot bahkan menekan keras sekali pantatku, kali ini aku yg berubah menjadi ganas dan jalang, bagaikan kuda betina liar aku putar pinggulku dan bagai penari perut meliuk meliuk begitu cepat.

K0ntolnya kugenjot dan kupelintir habiss.. bahkan kukontraksikan otot-otot Meqiku sehingga k0ntol yg besar itu terasa bagai dlm vacum cleaner terhisap dan terkenyot didlm liang Meqiku. Dan yg terjadi adalah benar benar membuatku bangga sekali, Bram bagai Layg-layg putus menggelinjang habis kadang mengejangkan tubuhnya sambil meremas pantatku keras sekali, sekali-kali ingin melepaskan tubuhku darinya tp tdk kuberikan kesempatan itu bahkan kutekan lagi pantatku lebih keras, batang k0ntolnya melesak seluruhnya bahkan rambut kemaluannya sudah menyatu dgn rambut kemaluanku, clitorisku yg lapar akan birahi sudah mengacung keras makin merah membara tergencet batang kemaluannya. Badanku sedikit kumiringkan ke belakang, buah zakarnya kuraih dan kuremas-remas.

“..Ooohh.. aachh.. yeess.. Miiiirrrr.. yeess..!!”Bram membelalakan matanya sama sekali tdk menygka aku menjadi begitu beringass..begitu liaar.. menunggangi tubuhnya, lalu Bram bangkit, dgn posisi duduk ia menylomot buah dadaku… aachh tubuhku semakin panaas.. kubusungkan kedua buah dadaku.
“..selomot.. pentilku.. dua. duanya.. Miirr..yeess..!! …sshh.. …oohh..!! mataku menjadi berkunang kunang,
“..Ooohh.. Miraaaa.. nikmatnya bukan main posisi ini..! batang kontolku melesak dlm sekali menembus meqimu..!”

Bram mendengus-dengus kurasakan batang k0ntolnya mengembung pertanda spermanya setiap saat akan meletup,

“..Ohh.. sshh..aahh.. Bram ..keluaar.. bareeng..sayaannghh..!! jiwaku terasa berputar putar..! “..yess..Miiirrrrr..akuuu…keluarkan diluar apa didlm..?”.
“..Ohh..Bram Peniissssmu..jaangaahhn..dicabuut..keluarin..didalaam..!!

Tiba tiba bagaikan disetrum jutaan volt kenikmatan tubuhku bergetar hebat sekalii..! dan tubuhku mengejang ketika kurasakan semburan dahsyat di dlm rahimku,

“..aachh. jepiit kontoolku..yeess..sshh..Oouuuhh..nikmaatnya..meqimu Miraaa..!!” Bram memuncratkan air maninya di dlm rongga Meqiku, terasa kental dan banyak sekali.

Akupun mengelinjang hebat sampai lupa daratan

“..Nggkkh.. sshh.. uugghh.. Heerru.. teekeen kontoolmu.. sampe mentookkhh.. sayaang.. aarrgghh..!! gelombang demi gelombang kenikmatan menggulung jiwaku, ooh benar benar tak kusangka makin sering klimaks makin luar biaasaa rasa nikmatnya jiwaku serasa terbetot keluar terombang ambing dlm lautan kenikmatan yg maha luas.

Kutekan kujepit kekepit seluruh tubuhnya mulai batang k0ntolnya pantatnya pinggangnya bahkan dadanya yg kekar kupeluk erat sekali.

Seluruh tetes air maninya kuperas dari batang kemaluannya yg sedang terjepit menyatu di dlm liang Meqiku. aarrgghh.. Nikmatnya sungguh luar biaasaa!! Oohh Bram aku kuatir akan ketagihan dgn batang k0ntolmu yg maha dahsyat ini!! Akhirnya perlahan lahan kesadaranku pulih kembali, klimaks yg ketiga ini membuat tubuhku terasa lemas sekali, Bram sadar akan keterbatasan tenagaku, akhirnya ia membaringkan tubuhku di dadanya yg kekar, aku merasakan kenyamanan yg luar biasa, kepuasanku terasa sangat dihargainya.

3 kali klimaks bukanlah hal yg mudah bagiku untuk mendapatkannya didlm satu kali permainan seks. Bram telah menaklukan diriku luaar.. dalaam..!! akan kukenang kejadian ini selama hidupku. Tiba tiba Bram melihat jam lalu dgn muka sedih ia mengatakan kepadaku bahwa ia harus menemui seseorang, akupun tak kuasa menahannya, aku hanya mengangguk tak berdaya.

Namun hingga kini, persetubuhan batin dlm diriku masih terus berlangsung. Di lain pihak aku tetap ingin mencintai suamiku, walaupun ia tak bisa memberikan apa yg telah diberikan Bram padaku. Aku masih merindukan dan menginginkan sentuhan kejantanan Bram. Cerita sex, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa “Cerita Dewasa: Ngentot Sama Mas Bram Teman Saumiku” dan foto sex bugil tante bispak abg hot terbaru 2016